Belajar Adab dari Al-Muwaffaq

Al-Muwaffaq Ibnu Qudamah al-Maqdisi al-Hanbali rahimahullāh merupakan salah satu di antara ulama Islam yang memiliki kredibilitas dalam hal ilmu dan adab. Pada karya masterpiece-nya yakni ­Al-Mughni akan tampak kedua sisi tersebut yang sudah sepatutnya dicontoh oleh para penimba ilmu ketika mendiskusikan suatu permasalahan yang memiliki perbedaan pendapat.

Kita tahu, bahwa kitab Al-Mughni dianggap sebagai salah satu kitab yang membahas tentang fikih Islam secara umum dan fikih mazhab Hanbali secara khusus. Sebab, penulis kitab tersebut menyusunnya dalam bentuk studi perbandingan mazhab. Al-Muwaffaq rahimahullāh tidak hanya menjelaskan ungkapan-ungkapan yang terdapat dalam kitab Mukhtashar Al-Khiraqi -kitab fikih muktamad dalam mazhab Hanbali pada era mutaqaddimin- dan menerangkan maksud-maksud yang terkandung di dalamnya saja, tetapi juga menganalisis semua poin yang berkaitan dengan suatu masalah yang disebutkan di dalamnya. Beliau menyebutkan perbedaan riwayat yang berkembang di kalangan pengikut mazhab Hanbali mengenai suatu permasalahan, lalu beliau memaparkan perbedaan riwayat yang terjadi di antara sejumlah imam yang berasal dari berbagai mazhab.

Bahkan, beliau juga menyebutkan mazhab sejumlah ulama yang sudah tidak berkembang lagi karena tidak adanya para pengikut yang berusaha untuk menyebarluaskannya, seperti mazhab para tabi’in dan juga ulama setelahnya, yaitu seperti mazhab Al-Hasan Al-Bashri, Atha’, Sufyan ats-Tsauri, dan lain sebagainya. Beliau juga menyebutkan dalil-dalil yang digunakan oleh orang yang mengungkapkan suatu pendapat dalam masalah yang disebutkan. Lalu menjelaskan dalil-dalil tersebut dilihat dari sisi kekuatan dan kelemahannya.

Yang menarik adalah meskipun beliau menyebutkan pendapat para ulama dan dalil-dalilnya, seakan-akan beliau tidak merajihkan salah satu dari berbagai pendapat yang ada dengan ungkapan “yang rajih adalah …”. Alih-alih demikian, beliau justru memilih ungkapan yang lebih halus daripada itu, yakni dengan ungkapannya “wa lanaa …, dan pendapat kami …” kita ambil salah satu contoh pada masalah minimal masa haidh.

Kata Abul Qasim al-Khiraqi rahimahullāh, “Minimal masa haidh adalah sehari semalam dan maksimalnya adalah lima belas hari.” Kemudian Al-Muwaffaq rahimahullāh mensyarah apa yang dimaksud oleh perkataan tersebut.

Kata Al-Muwaffaq, “Ini adalah pendapat yang benar dari mazhab Abu Abdillah. Al-Khallal berkata, “Dalam mazhab Abu Abdillah, tidak ada perbedaan pendapat bahwa minimal masa haidh adalah sehari semalam dan masa maksimalnya adalah lima belas hari.”

Namun dikatakan dari Ahmad, “Maksimal masa haidh adalah tujuh belas hari.”

Sementara itu Asy-Syafi’I memiliki dua qaul, seperti dua pendapat di atas tentang batas minimal dan maksimal haidh.

Adapun Ishaq bin Rahuyah, ia berkata, “’Atha berkata, ‘Masa haidh adalah sehari.’”

Sai’id bin Jubair berkata, “Maksimal masa haidh adalah tiga belas hari.”

Ats-Tsauri, Abu Hanifah, dan kedua sahabatnya berkata, “Minimal masa haidh itu adalah tiga hari dan maksimalnya adalah sepuluh hari.” Sebab Watsilah bin Al-Asqa’ pernah meriwayatkan bahwa Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Minimal masa haidh adalah tiga hari, dan maksimalnya adalah sepuluh hari.” (HR Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Malik bin Anas berkata, “Tidak ada batasan mengenai waktu minimal haidh dan ia bisa berlangsung dalam waktu yang sesaat. Sebab, jika masa minimal haidh itu memiliki batasan, niscaya wanita tidak akan diperbolehkan meninggalkan shalat, hingga batas waktu tersebut berlalu.””

Setelah memaparkan pendapat para ulama disertai alasan mereka, apa kata Al-Muwaffaq?

وَلَنَا أَنَّهُ وَرَدَ فِي الشَّرْعِ مُطْلَقًا مِنْ غَيْرِ تَحْدِيدٍ، وَلَا حَدَّ لَهُ فِي اللُّغَةِ، وَلَا فِي الشَّرِيعَةِ، فَيَجِبُ الرُّجُوعُ فِيهِ إلَى الْعُرْفِ وَالْعَادَةِ، كَمَا فِي الْقَبْضِ، وَالْإِحْرَازِ، وَالتَّفَرُّقِ، وَأَشْبَاهِهَا، وَقَدْ وُجِدَ حَيْضٌ مُعْتَادٌ يَوْمًا

Dan pendapat kami adalah, bahwa kata haidh muncul dalam syarak secara mutlak tanpa ada batasan. Ia juga tidak memiliki batasan dalam bahasa dan syariat. Oleh karena itu wajib dikembalikan kepada adat-istiadat dan kebiasaan, seperti halnya dalam menerima barang yang dibeli, berpisah, dan sejenisnya dalam transaksi jual beli. Dan haidh, yang biasa, ditemukan berlangsung dalam waktu sehari.”

Kemudian beliau menyebutkan argumen para ulama untuk mendukung pendapatnya. Kata beliau,

“Atha’ berkata, ‘Aku melihat di antara kaum perempuan ada seseorang yang haidh selama sehari, dan ada pula yang haid selama lima belas hari.’

Ahmad berkata, ‘Yahya bin Adam menceritakan kepadaku, ia berkata, ‘Aku mendengar Syarik berkata, ‘Di dekat kami ada seorang wanita yang haidh selama lima belas hari pada setiap bulannya, secara terus menerus.’

Ibnu Al-Mundzir berkata, ‘Al-Auza’I berkata, ‘Di dekat kami ada seorang wanita yang haidh pada pagi hari dan suci pada sore hari.’”

Selanjutnya beliau menyampaikan bahwa hadits Watsilah bin al-Asqa’ di atas diriwayatkan oleh Muhammad bin Ahmad asy-Syami. Dia dianggap berderajat daif. Dari Hamad bin Al-Minhal, dia adalah perawi majhul.

Seperti inilah metodologi Al-Muwaffaq rahimahullāh dalam mendiskusikan perbedaan pendapat di kalangan para ulama. Terkesan lebih “adem”. Kenapa demikian? Sebab terkadang ketika seseorang menggunakan term “inilah yang rajih” berarti menganggap pendapat selainnya lemah. Padahal belum tentu, karena rajih menurutnya belum tentu rajih menurut lainnya.

Terlebih ketika seseorang tidak memiliki perangkat yang cukup untuk mendudukkan suatu permasalahan kemudian dia memvonis “inilah yang rajih” seakan-akan permasalahan itu telah final dengan vonis tersebut dan yang memilih pendapat lainnya berada di atas kesalahan. Walhasil, terjadilah “gesekan” karena perkara tersebut.

Tidak masalah sebenarnya menggunakan term “inilah yang rajih” asal jangan berhenti di situ. Sepatutnya pula untuk memberitahukan bahwa dalam perkara tersebut ada perbedaan yang menuntut kita untuk lapang dada.

Wallahu ‘alam.

Abu ‘Aashim asy-Syibindunji

Pic. Dokumentasi pribadi.

About The Author


Nanang Ismail

Pengasuh sunnahedu.com. Pernah menjadi mahasantri di Ponpes Syekh Jamilurrahman as-Salafi, Bantul. Aktivitas sekarang bergelut di dunia dakwah dan pendidikan.

Leave a Comment