Tujuh Kaidah dalam Beragama [1]: Pendahuluan

Salah satu risalah karya Syekh al-Islam al-Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullāh yang mungkin jarang didengar oleh sebagian pelajar yang menggeluti karya-karyanya adalah Risālah Wājibunā Naḥwa mā ‘amarallāh. Oleh karena itu dalam rangka ­­nguri-uri peninggalan beliau, saya bermaksud memberikan penjelasan ringkas atas risalah tersebut. Terkait matan risalah, telah saya alih bahasakan di sini.

Semoga dengan hadirnya risalah dan penjelasan ini, kita dapat mengetahui tentang dakwah al-Syekh rahimahullāh dan memberikan penilaian terhadapnya. Tidaklah saya berharap kecuali wajah-Nya semata.

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Sesungguhnya saya bersaksi bahwa tidak sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah Ta`ala semata. Saya pun bersaksi bahwa Nabi Muhammad shallallāhu `alaihi wa sallam adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga selawat dan salam tercurahkan juga kepada keluarga dan para sahabatnya. ‘Amma ba`du.

Risalah yang akan kita bahas ini merupakan risalah yang agung, memiliki manfaat yang besar, dan faedahnya menyentuh kebutuhan dasar kita yakni berkaitan dengan memahami agama yang mulia ini. Sebab, risalah ini mengandung peringatan terhadap tujuh perkara besar yang wajib atas setiap muslim dan muslimah untuk merealisasikan setiap hal yang Allah perintahkan bagi mereka.

Telah dimaklumi bahwa Allah `Azza wa Jalla menciptakan semua makhluk-Nya dalam rangka untuk beribadah kepada-Nya semata. Mereka ditekankan untuk mewujudkan ketaatan kepada-Nya dengan mengesakan-Nya dalam setiap ibadah, sebagaimana Allah Jalla wa `Alā berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS al-Żariyat: 56).

Dalam Tafsir al-Muyassar disebutkan maksud ayat ini ialah Aku tidak menciptakan jin dan manusia, dan mengutus para rasul, kecuali untuk tujuan luhur: beribadah hanya kepada-Ku semata bukan kepada selain-Ku.

Oleh sebab itu, apa saja yang diciptakan oleh makhluk lalu mereka menyembah yang mereka ciptakan tentu ini merupakan perbuatan yang batil dan zalim, sudah selayaknya ditinggalkan. Mengapa demikian? Sebab Allahlah yang menciptakan dan memelihara mereka, sudah selayaknya peribadahan itu hanya ditujukan kepada-Nya bukan kepada makhluk lemah yang diciptakan-Nya. Ketahuilah bahwa Allah Jalla wa ‘Alā mengutus para nabi dan rasul sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan serta mengajak untuk kembali menaati Rabb alam semesta dan mengesakan-Nya dengan mengikhlaskan ibadah kepada-Nya semata.

Wajib atas setiap muslim dan muslimah untuk memperhatikan masalah ini dengan baik. Dan senantiasa melaksanakan setiap perintah Allah Ta’āla. Perintah Allah yang paling luhur ialah mengesakan-Nya dalam setiap ibadah. Kita pun harus menjauhi setiap yang Allah larang dan larangan-Nya yang terbesar ialah berbuat syirik kepada-Nya.

Pada risalah yang akan kita kaji ini, al-Syekh mengumpulkan perkara yang bermanfaat dengan cara meringkasnya yang disertai penjelasan hal yang wajib bagi kita berkaitan dengan perintah dan larangan Allah Subḥānahu wa Ta`āla. Kemudian beliau rahimahullāh menyusunnya menjadi tujuh tingkatan. Tingkatan-tingkatan yang beliau sebutkan sudah selayaknya dilakukan oleh setiap muslim dan muslimah sebagai bentuk pengagungan mereka kepada Allah yang dengan-Nya mereka memohon pertolongan, menghafalnya, memahami maksud yang terkandung di dalamnya, dan mengamalkannya; kemudian setelah itu mendakwahkan dan menyebarkan kebaikan ini.

Bersambung …

Salatiga, 01061442

✍️ Abu ‘Aashim asy-Syibindunji

📗 Diadaptasi dari pelajaran Syarḥ Risālah Wājibunā Naḥwa mā ‘amarallāh yang disampaikan oleh al-Syekh Dr. Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin al-Abbad al-Badr hafiẓahumullāh.

Photo credit: Pixabay

About The Author


Nanang Ismail

Pengasuh sunnahedu.com. Pernah menjadi mahasantri di Ponpes Syekh Jamilurrahman as-Salafi, Bantul. Aktivitas sekarang bergelut di dunia dakwah dan pendidikan.

Leave a Comment