Syarah Bidayatul Abid (4): Bejana

Berkata Al-‘Allamah Abdurrahman al-Ba’li al-Hanbali rahimahullah,

وكلُّ إِنَاءٍ طَاهِرٍ يُبَاحُ اتخاذُهُ واستعمَالُهُ غَيْرَ ذَهبٍ وفضةٍ

“Dan setiap bejana yang suci boleh dimanfaatkan dan digunakan selain emas dan perak.”

SYARAH

Hukum asal bejana itu suci, karena asal segala sesuatu itu semuanya suci. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

هُوَ ٱلَّذِى خَلَقَ لَكُم مَّا فِى ٱلْأَرْضِ جَمِيعًا

Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu …” (QS Al-Baqarah: 29)

(وكلُّ إِنَاءٍ طَاهِرٍ) Dan setiap bejana yang suci, seperti yang terbuat dari kayu, walaupun yang berharga seperti permata.

(يُبَاحُ اتخاذُهُ واستعمَالُهُ) Boleh dimanfaatkan dan digunakan, tanpa makruh, karena hukum asal segala sesuatu itu halal, boleh dimanfaatkan dan digunakan.

(الاتخاذ  ) Maksudnya adalah mengambilnya semata-mata untuk sarana, meskipun tidak memanfaatkannya secara langsung.

(الاستعمال) Maksudnya adalah menggunakannya dengan memanfaatkannya secara langsung.

(غَيْرَ)  Selain, yakni adanya pengecualian.

(ذَهبٍ وفضةٍ) Emas dan perak, maksudnya bejana yang terbuat dari emas dan perak, baik emas dan perak murni atau tidak. Haram menggunakannya. Ini yang pertama. Sebagaimana dalam hadits Hudzaifah ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا تشربوا في آنيةِ الذهبِ والفضةِ ولا تأكلوا في صحافِهما فإنها لهم في الدنيا ولكم في الآخرةِ


Janganlah kalian minum menggunakan bejana yang terbuat dari emas dan perak, dan jangan pula kalian makan menggunakan piring yang terbuat dari keduanya, karena itu untuk mereka
(orang-orang kafir) di dunia dan untuk kalian kelak di akhirat
.’” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Pengharaman ini sama saja baik bejana tersebut terbuat dari emas murni dan perak murni ataupun tidak, sebab Asy-Syaari’ yakni pembuat syariat jika melarang dari sesuatu maka menggantungkan larangan itu dengan semua keumumannya.

Larangan ini mencakup untuk laki-laki dan perempuan. Hanya saja untuk perempuan, diperbolehkan memakai perhiasan dari emas semata-mata karena kebutuhannya untuk berhias di hadapan suami.

Yang kedua, bejana yang terbuat dari kulit dan tulang manusia, haram digunakan, karena sebagai bentuk pemuliaan.

Catatan:

Menggunakan bejana yang terbuat dari emas dan perak ada tiga jenisnya,

Pertama, menggunakannya untuk makan dan minum hukumnya haram. Telah disebutkan ijma akan hal ini, sebagaimana pada hadits Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu di atas.

Kedua, menggunakannya untuk selain makan dan minum seperti menggunakannya untuk bersuci atau menampung sesuatu seperti untuk botol tinta, hukumnya haram dengan kesepakatan imam yang empat. Hal  tersebut karena disetarakan dengan digunakan untuk makan dan minum.

Disebutan kata makan dan minum dalam hadits ini secara khusus karena untuk itulah biasanya bejana itu digunakan, bukan untuk membatasi (mengkhususkan) pada kedua penggunaan ini saja. Jika penggunaannya untuk makan dan minum dilarang, padahal itu menjadi kebutuhan terbesar, maka penggunaannya untuk selain itu yang kebutuhannya dibawah kebutuhan makan dan minum lebih layak untuk dilarang.

Adapun menurut Asy-Syaukani, Ash-Shan’ani, dan Ibnul ‘Utsaimin rahimahumullah, bahwa boleh memanfaatkan bejana emas dan perak, dan boleh menggunakannya untuk selain makan dan minum. Sebagaimana dalam riwayat ‘Utsman bin Abdillah bin Muhib , dia berkata, “Istriku mengutusku ke Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa gelas kecil yang terbuat dari perak berisi air, yang di dalamnya dicelupkan sehelai rambut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika ada seseorang yang terkena ‘ain atau sesuatu, dia mengutus kepadanya (degan membawa air) agar rambut tersebut dicelupkan.” (HR Al-Bukhari no. 5896). Terkait larangan menggunakan emas dan perak itu secara khusus untuk makan dan minum, bukan untuk selainnya.

Ketiga, terkait memiliki bejana emas dan perak meskipun tidak menggunakannya, maka haram menurut jumhur ulama, baik dari kalangan Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah serta lainnya.

Alasan pengharamannya ini karena semua yang tidak boleh digunakan maka tidak boleh dimiliki, seperti alat-alat musik dan khamr dan selainnya. Alasan lain, karena memiliki bejana emas dan perak menjadi sarana untuk menggunakannya dan hukum memiliki sarana sama dengan hukum tujuannya. Alasan lainnya juga karena memiliki bejana yang terbuat dari emas dan perak tanpa menggunakannya sama sekali adalah membuang-buang harta.

Bersambung …

Gerimis siang hari, 16 Robi’ul Awwal 1442

Abu ‘Aashim asy-Syibindunji

Referensi:

Bidaayatul ‘Aabid wa Kifaayatuz Zaahid. Abdurrahman al-Ba’li al-Hanbali. Penerbit Darul Basyar al-Islamiyyah, Beirut.

Buluughul Qooshid Jallal Maqooshid. Abdurrahman al-Ba’li al-Hanbali. Penerbit Darul Basyar al-Islamiyyah, Beirut.

Munyatus Saajid. Dr. Anas bin ‘Adil as-Sami dan Dr. Abdul ‘Aziz al-Iedan. Dar Rakaiz.

Artikel: sunnahedu.com

Abu 'Aashim asy-Syibindunji

Pengasuh SunnahEdu[dot]Com. Pernah menjadi mahasantri di Ponpes Jamilurrahman as-Salafi, Bantul. Aktivitas sekarang bergelut di dunia dakwah dan pendidikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *