Syarah Bidayatul Abid (3): Penjelasan Jenis-Jenis Air

Berkata Al-‘Allamah Abdurrahman al-Ba’li al-Hanbali rahimahullah,

فالطهورُ: هو الباقي على خِلْقتِهِ طَهُورٌ في نفسِهِ مُطهِّر لغيره، يَجُوزُ استعمالُهُ مطلقًا

Air thohur, yakni air yang sifatnya tetap sesuai asal penciptaannya. Air ini suci zatnya dan dapat menyucikan untuk selainnya. Boleh digunakan secara mutlak.

SYARAH

Jenis air yang pertama ialah air thohur

(هو) Yakni definisi air thohur.

(الباقي على خِلْقتِهِ) Air yang sifatnya tetap atas penciptaannya, yakni sesuai asal penciptaannya, baik ditinjau secara hakikat ataupun hukumnya. Ditinjau secara hakekatnya ialah seperti air hujan, es yang mencair, air embun, air sungai, air danau, air telaga, air laut, dan lainnya. Adapun yang dimaksud secara hukumnya ialah seperti air yang tercampur dengan benda suci yang tidak mendominasi kesucian air.

(طَهُورٌ في نفسِهِ مُطهِّر لغيره) Air yang suci secara zatnya dan dapat menyucikan untuk selainnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً لِّيُطَهِّرَكُم بِهِ

“… dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu …” (QS Al-Anfal: 11)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia berkata, ‘Sesungguhnya kami telah berlayar di lautan, dan kami hanya membawa sedikit air. Jika kami gunakan air tersebut, maka kami akan kehausan. Apakah kami boleh berwudhu menggunakan air laut?’ lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Air laut itu, airnya suci menyucikan dan bangkai hewan laut, halal dimakan.’’’ (HR Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa`I, dan Ibnu Majah)

(يَجُوزُ استعمالُهُ مطلقًا) Boleh digunakan secara mutlak, baik untuk mengangkat hadats ataupun untuk menghilangkan najis, dan selain keduanya.

Mu’allif berkata,

والطاهرُ: ما تَغَيَّرَ كثير من لَوْنِهِ أو طَعْمِهِ أَوْ ريحِهِ بِطَاهِرِ، وهو طَاهِر في نفسه غيرُ مطهِّرِ لِغَيْرِهِ، يَجوزُ استعمَالُهُ في غَيْرِ رَفْعِ حَدَثِ وزَوَالِ خَبَثِ

Air thohir ialah air yang sifatnya mengalami perubahan yang banyak dari warna, rasa, dan baunya akibat bercampur dengan benda yang suci. Air ini suci zatnya tetapi tidak dapat menyucikan untuk selainnya. Boleh digunakan untuk selain mengangkat hadats dan menghilangkan khabats.

SYARAH

(ما تَغَيَّرَ كثير من لَوْنِهِ أو طَعْمِهِ أَوْ ريحِهِ بِطَاهِرِ) Air thohir ialah air yang sifatnya mengalami perubahan yang banyak dari warna, rasa, dan baunya akibat bercampur dengan benda yang suci. Seperti za’faran dan susu.

(وهو طَاهِر في نفسه غيرُ مطهِّرِ لِغَيْرِهِ) Air ini suci zatnya tetapi tidak dapat menyucikan untuk selainnya. Karena bukan air mutlak, berbeda dengan jenis air pertama tadi.

(يَجوزُ استعمَالُهُ) Air thohir boleh digunakan.

(في غَيْرِ رَفْعِ حَدَثِ وزَوَالِ خَبَثِ) Untuk selain mengangkat hadats dan menghilangkan khabats, seperti untuk makan dan minum. Oleh karena itu, air thohir tidak dapat mengangkat hadats dan tidak dapat menghilangkan khabats, yaitu najis.

Mu’allif berkata,

والنَجسُ: ما تَغَيَّرَ بِنَجَاسَةٍ في غَيْرِ مَحَلِّ تطهير، ويَحْرُمُ استعمالُهُ مطلقًا إِلاَّ لضرورة

Air najis ialah air yang sifatnya berubah karena najis pada selain permukaan yang sedang disucikan. Haram digunakan secara mutlak kecuali karena darurat.

SYARAH

Jenis air ketika ialah air najis.

(ما تَغَيَّرَ بِنَجَاسَةٍ) Air yang sifatnya berubah karena najis, baik airnya sedikit ataupun banyak. Dan Ibnul Mundzir telah menyampaikan ijma terkait hal ini.

(في غَيْرِ مَحَلِّ تطهير) Pada selain permukaan yang sedang disucikan. Misal, di tangan seseorang ada najis, lalu orang tersebut menyiram dengan air yang volumenya sedikit yakni di bawah dua qullah. Air ketika mengenai najis di tangan tersebut tidaklah menjadi air najis karena ketentuannya fii mahalli tath-hhir. Air tersebut akan menjadi najis ketika lepas dari tempat yang disucikan.

(ويَحْرُمُ استعمالُهُ مطلقًا) Air najis ini haram digunakan secara mutlak, baik untuk ibadah ataupun selainnya. Karena Allah Ta’ala berfirman,

وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ ٱلْخَبَٰٓئِثَ

“… dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk …” (QS Al-‘Araf: 157) dan najis itu buruk.

(إلا لضرورة) Kecuali karena darurat. Sebab, jika dalam keadaan darurat itu membolehkan hal tersebut. Seperti untuk melancarkan kerongkongan yang tersemat sesuatu, jika tidak meminum air yang najis maka akan mengakibatkan kematian.

Mu’allif berkata,

والكَثيرُ قُلَّتَانِ فَأَكْثَرَ، واليَسيرُ ما دونَهُمَا، وهما: مائةُ رطْلٍ وسبعةُ أرطالٍ وسُبُعُ رِطْلٍ بالدمشقي وما وافَقَهُ

Air disebut air yang banyak yakni ketika mencapai dua qullah dan disebut air yang sedikit yakni ketika di bawahnya. Dua qullah setara dengan 107,7 rithl Damaskus.

SYARAH

Berikutnya mu’allif menerangkan tentang volume air. Kapan air disebut air yang sedikit dan akpan air disebut air yang banyak. Maka kata mu’allif,

(والكَثيرُ قُلَّتَانِ فَأَكْثَرَ، واليَسيرُ ما دونَهُمَا) Air disebut air yang banyak yakni ketika mencapai dua qullah dan disebut air yang sedikit yakni ketika di bawahnya.

Berapa dua qullah itu?

(مائةُ رطْلٍ وسبعةُ أرطالٍ وسُبُعُ رِطْلٍ بالدمشقي وما وافَقَهُ) Dua qullah setara dengan 107,7 rithl Damaskus, dan yang sepadan dengannya. Mu’allif di sini menggunakan rithl Damaskus, karena beliau orang Damaskus. Sedangkan Imam Ahmad dan mayoritas fuqoha Hanabilah menggunakan rithl Irak. Dua qullah dalam rithl Irak setara dengan 500 rithl Irak. Jika dikonversi dalam kilogram maka 2 qullah = 191,25 kg atau 191,25 L. Wallahu ‘alam.

Bersambung …

Mengisi waktu luang, 9 Robi’ul Awwal 1442

Abu ‘Aashim asy-Syibindunji

Referensi:

Bidaayatul ‘Aabid wa Kifaayatuz Zaahid. Abdurrahman al-Ba’li al-Hanbali. Penerbit Darul Basyar al-Islamiyyah, Beirut.

Buluughul Qooshid Jallal Maqooshid. Abdurrahman al-Ba’li al-Hanbali. Penerbit Darul Basyar al-Islamiyyah, Beirut.

Munyatus Saajid. Dr. Anas bin ‘Adil as-Sami dan Dr. Abdul ‘Aziz al-Iedan. Dar Rakaiz.

Artikel: sunnahedu.com

Abu 'Aashim asy-Syibindunji

Pengasuh SunnahEdu[dot]Com. Pernah menjadi mahasantri di Ponpes Jamilurrahman as-Salafi, Bantul. Aktivitas sekarang bergelut di dunia dakwah dan pendidikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *