Kewajiban Kita Terhadap Apa yang Allah Perintahkan

Syekh al Islam Muhammad bin Abdul Wahab al Najd al Hanbali rahimahullah (1115 – 1206 H) berkata:

Jika Allah Ta’ala memerintahkan seorang hamba dengan suatu perkara, maka wajib atasnya untuk mengerjakannya. Dalam masalah ini ada tujuh hal:

  1. mengilmuinya,
  2. mencintainya,
  3. memiliki tekad untuk melakukannya,
  4. beramal,
  5. menjadikannya sesuai syariat secara ikhlas dan benar,
  6. memperingatkan dari perbuatan yang dapat menghapuskan amal, dan
  7. teguh di atasnya.

PERTAMA: MENGILMUINYA

Jika seorang hamba mengetahui bahwasanya Allah Ta’ala memerintahkan untuk menauhidkan-Nya dan melarangnya dari melakukan kesyirikan, atau dia mengetahui bahwasanya Allah Ta’ala menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba, atau mengetahui bahwa Allah Ta’ala mengharamkan memakan harta anak yatim dan menghalalkan untuk memakannya bagi walinya dengan cara yang makruf jika wali tersebut fakir, maka wajib atasnya mengetahui perkara-perkara tersebut dan bertanya tentangnya kepada orang yang mengetahuinya, dan dia pun harus mengetahui hal yang dilarang darinya serta bertanya tentangnya kepada orang yang mengetahuinya. Maka, yang perlu diperhatikan pada perkara yang pertama ini adalah masalah tauhid dan syirik.

Mayoritas orang mengetahui bahwa tauhid itu benar dan syirik itu batil, akan tetapi mereka berpaling darinya dan tidak bertanya. Mereka  mengetahui bahwa Allah Ta’ala mengharamkan riba, akan tetapi mereka berjual beli dengannya dan tidak bertanya.  Mereka mengetahui haramnta memakan harta anak yatim dan boleh memakannya dengan cara yang makruf, akan tetapi mereka mengambil alih harta yatim tersebut dan tidak bertanya.

KEDUA: MENCINTAI

Mencintai apa yang Allah Ta’ala turunkan dan mengingkari orang yang membencinya, sebagaimana dalam firman-Nya,

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا۟ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَٰلَهُمْ

“Yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al Quran) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka.” (QS Muhammad [47]: 9)

Mayoritas orang tidak mencintai Rasul-Nya. Bahkan mereka membencinya dan membenci apa yang di bawanya, walaupun mereka mengetahui bahwa Allah Ta’ala menurunkan Al Quran.

KETIGA: MEMILIKI TEKAD UNTUK MELAKUKANNYA

Mayoritas orang mengetahui dan mencintai, akan tetapi tidak memiliki tekad karena takut dunianya berubah.

KEEMPAT: BERAMAL

Mayoritas orang jika telah memiliki tekad atau beramal kemudian ada orang yang dia muliakan seperti  para syekhnya dan selainnya menjelaskan perkara tersebut, mereka meninggalkan amalan itu.

KELIMA: IKHLAS

Bahwasanya mayoritas orang yang beramal, mereka tidak melakukannya dengan ikhlas, maka ketika tidak ikhlas mereka tidak melakukan amal itu dengan benar.

KEENAM: MEMPERINGATKAN DARI PERBUATAN YANG DAPAT MENGHAPUSKAN AMAL

Orang-orang saleh, mereka takut amalannya hilang. Allah Ta’ala berfirman,

أَن تَحْبَطَ أَعْمَٰلُكُمْ وَأَنتُمْ لَا تَشْعُرُونَ

“ … supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.” (QS Al Hujurat [49]: 2) dan sikap seperti ini sangat sedikit di zaman kita.

KETUJUH: TEGUH

Teguh di atas kebenaran dan khawatir dari akhir yang buruk. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya di antara kalian ada orang yang beramal dengan amalan ahli surga, dan di akhir hayatnya dia beramal dnegan amalan ahli neraka.” (HR Al Bukhari no. 6594 dan Muslim no. 2643, dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu).

Hal ini juga termasuk perkara yang paling besar yang dikhawatirkan orang-orang saleh, dan sikap seperti ini sangat sedikit di zaman kita, maka renungilah dalam hal yang perlu diketahui manusia dalam masalah ini dan selainnya . semoga Allah Ta’ala memberimu petunjuk kepada sesuatu yang mayoritas orang jahil tentangnya. Wallahu ‘alam. [ ]

📚 Sumber: Risalah Wajibunaa Nahwa maa Amaronaallooh bihi.

✍️ Alih bahasa: Abu ‘Aashim asy Syibindunji

Artikel: sunnahedu.com

Abu 'Aashim asy Syibindunji

Pengasuh SunnahEdu[dot]Com. Pernah menjadi mahasantri di Ponpes Jamilurrahman As-Salafi, Bantul. Masyayikh yang pernah diambil faedahnya ialah Syekh Haitsam Muhammad Sarhan, Syekh Abdul Lathif al-Jazairi, dan Syekh Abdul Aziz al-Iedan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *