Para Ulama adalah Manusia Terbaik

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا يَخْشَى ٱللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ ٱلْعُلَمَٰٓؤُا۟

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (QS. Fathir [35]: 28)

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمْ خَيْرُ ٱلْبَرِيَّةِ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.”

جَزَآؤُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّٰتُ عَدْنٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۖ رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِىَ رَبَّهُۥ

“Balasan mereka di sisi Rabb mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Rabbnya.” (QS. Al-Bayyinah [98]: 7 – 8)

Imam Badruddin Ibnu Jama’ah asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Kedua ayat di atas menunjukkan bahwa para ulama adalah orang-orang yang takut kepada Allah Ta’ala. Dan bahwasanya orang-orang yang takut kepada Allah adalah manusia yang terbaik. Alhasil, para ulama adalah manusia yang terbaik.” (Tadzkiratus Saami’ wal Mutakallim fii Adabil ‘Aalim wal Muta’allim, hal. 37. Darul Basyar Al-Islamiyyah, Beirut)

Ikhwati fillah

Lihatlah bahwa Allah Ta’ala memuji para ulama dengan pujian yang indah, yakni manusia yang terbaik. Pun Allah Ta’ala menyifatkan mereka dengan orang-orang yang takut kepada Rabbnya. Aduhai alangkah indahnya pujian dan sifat ini, adakah yang mampu mengungguli keadaan mereka? Tentu selain nabi dan rasul serta generasi umat ini.

Mengapa mereka memiliki keadaan seperti itu? Jawabannya adalah karena mereka mengetahui sifat-sifat-Nya, syariat-syariat-Nya dan bukti-bukti kemahakuasaan-Nya.

Disebutkan dalam Tafsir Al-Mukhtashar, “Manusia, binatang melata, binatang ternak (unta, sapi dan domba), warna mereka juga berbeda-beda. Yang mengagungkan kedudukan Allah dan yang takut kepada-Nya hanyalah para ulama yang mengetahui Allah, karena mereka mengetahui sifat-sifat-Nya, syariat-syariat-Nya dan bukti-bukti kemahakuasaan-Nya. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa yang tidak ada suatu pun mengalahkan-Nya, Maha Pengampun terhadap dosa-dosa orang yang bertobat di antara hamba-hamba-Nya.”

Tidakkah kita menginginkan seperti mereka? Mungkin sebagian dari kita menginginkan seperti mereka tapi malu lantaran pendidikannya bukan basicnya ilmu syariah. 

Ketahuilah, tidak sedikit ulama yang basic pendidikan awalnya bukan ilmu syariah. Tapi karena jerih payah mereka menuntut ilmu agama -tentu setelah taufik dari Allah- mereka menjadi ulama yang karya-karya dan fatwa-fatwanya dijadikan rujukan umat dewasa ini. Siapakah mereka? Di antaranya ialah,

  1. Syekh Musthafa al-Adawi al-Mishri hafizhahullah. Menyelesaikan kuliah S1 Teknik Mesin. Beliau menghafal Al-Quran dan mengambil faedah dari Syekh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rahimahullah.
  2. Syekh Abu Ishaq al-Huwaini al-Atsari al-Mishri hafizhahullah. Dulunya memiliki basic kuliah S1 Bahasa Spanyol. Karena kecintaannya kepada ilmu agama maka beliau duduk di majelisnya para ulama diantaranya ialah Syekh Sayyid Sabiq rahimahullah penulis kitab Fiqih Sunnah dan mengambil faedah pula kepada Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah.
  3. Syekh Muhammad Sa’id Ruslan hafizhahullah. Awalnya mengambil kuliah Ilmu Bedah. Selain itu kuliah Bahasa Arab. Lalu jenjang masternya mengambil Ilmu Hadits. 
  4. Syekh Muhammad Saleh al-Munajjid hafizhahullah. Kuliah S1 Manajemen Industri. Selain kuliah, beliau pun duduk di majelisnya para ulama diantaranya Syekh Abdullah bin Baz, Syekh Muhammad Ibnu ‘Utsaimin, dan Syekh Abdullah al-Jibrin rahimahumullah.

Itulah beberapa masyayikh yang basicnya ilmu umum lalu menjadi ulama, karena Allah Ta’ala mengangkat kedudukan mereka dengan ilmu agama yang mereka pelajari. Selain itu, yang saya (penulis) ketahui dan pernah duduk di majelisnya ketika daurah yakni Syekh Muhammad bin Mubarak bin Hamd asy-Syarafi hafizhahullah. Beliau pernah mengenyam pendidikan Bahasa Inggris di Riyadh lalu di Britania Raya. Kemudian beliau belajar kepada Syekh Mas’ud bin Abdirrahman al-Haqbani, kemudian mulazamah di majelisnya Syekh Muhammad Ibnu ‘Utsaimin rahimahumullah.

Masya Allah dan segala puji bagi-Nya. Benarlah firman-Nya,

يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ

Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah [58]: 11)

Sebagian dari kita ingin seperti mereka. Tapi kadang ingin memeluk gunung aoa daya tangan tak sampai. Hm … Terus jika tidak mampu seperti mereka lalu harus bagaimana? Simak riwayat berikut,

Sulaiman bin Harb telah menyampaikan kepada kami, dia mengatakan, ‘Kami diberitahu oleh Hammad bin Zaid dari Tsabit dari Anas radhiyallahu ‘anhu, dia mengatakan bahwa ada seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hari kiamat. Orang itu mengatakan, ‘Kapankah hari kiamat itu?’ 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam balik bertanya, ’Apa yang telah engkau persiapkan untuk hari itu?’ 

Orang itu menjawab, ‘Tidak ada, hanya saja sesungguhnya saya mencintai Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.’

Anas radhiyallahu ‘anhu (Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang meriwayatkan hadits ini) mengatakan, “Kami tidak pernah merasakan kebahagiaan sebagaimana kebahagiaan kami ketika mendengar sabda Rasulullah, ‘Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.

Anas radhiyallahu ‘anhu mengatakan, ‘Saya mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bak, dan Umar. Aku berharap bisa bersama mereka dengan sebab kecintaanku kepada mereka meskipun saya tidak mampu melakukan amalan yang mereka lakukan

Hadits ini dibawakan oleh All-Bukhari dan Muslim dalam kitab Shahihnya dan juga At-Tirmidzi.

Inilah yang bisa kita lakukan ketika tidak bisa menjadi seperti para ulama. Agar kita dikumpulkan oleh Allah Ta’ala di surga-Nya bersama dengan para ulama yang kita cintai karena-Nya. [ ]

Malam bersenandungkan detik jam, 

Abu ‘Aashim asy-Syibindunji

Artikel: www.sunnahedu.com

Abu 'Aashim asy Syibindunji

Pengasuh SunnahEdu[dot]Com. Pernah menjadi mahasantri di Ponpes Jamilurrahman As-Salafi, Bantul. Masyayikh yang pernah diambil faedahnya ialah Syekh Haitsam Muhammad Sarhan, Syekh Abdul Lathif al-Jazairi, dan Syekh Abdul Aziz al-Iedan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *