Penulis yakni Al-Imam Ibnu Badran Al-Hambali rahmatullah ‘alaihi memulai dengan Kitâb Ath-Thahârah sebagaimana kebiasaan para ahli fikih rahimahumullah. Kebiasaan fuqaha dalam menulis fikih, mereka membagi pembahasannya ke dalam empat jenis, yakni tentang (1) ibadah, (2) muamalah seperti jual beli dan lainnya, (3) nikah dan talak, dan (4) jinayat, hudud, dan qadha.

Itulah metode yang mereka tempuh. Mereka memulai pertama kali dengan masalah ibadah karena hal ini merupakan bagian yang terpenting. Dan ibadah merupakan asal penciptaan manusia, sebagaimana Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (yang artinya),

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS Adz-Dzariyat [51]: 56)

Dalam fikih ibadah, yang didahulukan pembahasannya adalah tentang thaharah. Mengapa demikian? Karena thaharah salah satu syarat dari syarat-syarat sahnya shalat seseorang. Dan shalat merupakan ibadah yang terpenting lagi agung, yang tidaklah diterima kecuali terpenuhi syarat-syaratnya di antaranya ialah thaharah ini. Maka wajar jika fuqaha rahimahumullah memulai pembahasan kitab fikih mereka dengan thaharah.

Definisi Thaharah

Thaharah adalah

رفع الحدث وزوال الخبث

“Mengangkat hadats dan menghilangkan khabats.”

Sebagian fuqaha ada yang memberikan definisi dengan,

رفع الحدث وما في معناه وزوال الخبث

“Mengangkat hadats dan apa-apa yang semakna dengannya; dan menghilangkan khabats.”

Jadi thaharah mencakup tiga hal: (1) mengangkat hadats, (2) dan apa-apa yang semakna dengannya maksudnya ialah setiap hal yang semakna dengan mengangkat hadats, dan (3) menghilangkan khabats.

Apa itu hadats? Hadats adalah suatu sifat maknawi yang melekat dengan badan yang dapat menghalangi kesahan shalat seseorang dan lainnya, seperti thawaf di Baitullah. Hadats dapat terangkat (hilang) dengan berwudhu jika berupa hadats ashgar, dan dengan mandi jika berupa hadats akbar.

Dan apa-apa yang semakna dengannya seperti tayammum dan memandikan mayit.

Menghilangkan khabats maksudnya ialah menghilangkan najis-najis yang ada di pakaian, badan, atau tempat.

Wallahu ‘alam.

Abu ‘Aashim Asy-Syibindunji

Referensi:

Penjelasan Syaikh Muhammad bin Ahmad Bajabir hafizhahullah dalam tafrigh atas kitab Akhsharul Mukhtasharât.

Syarah Kitab Akhsharul Mukhtasharât: Definisi Thaharah

Abu 'Aashim Asy-Syibindunji

Lelaki dari bumi Cibendung. Pernah menjadi mahasantri di Ponpes Jamilurrahman As-Salafi, Bantul. Mendapatkan ijazah 'ammah dari Ust. Rikrik Aulia Rahman dan Syaikh Dr. Walid bin Idris Al-Manisi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *