Sifat Wanita Muslimah: Mengimani Qadha dan Qadar

Sebelum kita membaca dalil-dalil tentang sifat wanita muslimah yang keempat ini, yang disampaikan oleh penulis yakni Ummu Usamah binti Ali al-Abbasiyyah hafizhahallâh, alangkah baiknya kita mengetahui terlebih dahulu tentang apa itu qadha dan qadar serta hal-hal yang berkaitan dengannya.

Secara bahasa qadha artinya adalah hukum. Adapun qadar adalah takdir. Oleh karena itu dikatakan bahwa qadha dan qadar memiliki arti berbeda jika disebutkan bersamaan dan memiliki arti yang sama jika disebutkan secara terpisah. Jika dikatakan ini adalah qadar Allah, maka ia mencakup qadha. Kalau keduanya disebutkan secara bersama, maka masing-masing memiliki makna sendiri.

Qadar adalah perkara yang Allah Ta’ala takdirkan di azal untuk terjadi pada makhluk-Nya, sedangkan qadha adalah perkara yang Allah Ta’ala tetapkan pada makhluk-Nya dalam bentuk penciptaan, peniadaan, atau perubahan. Dari sini maka takdir mendahuli qadha.

Iman kepada qadar adalah wajib, kedudukannya sebagai salah satu rukun iman yang enam.

Iman kepada qadar memiliki beberapa faidah:

Pertama, bahwa ia termasuk kesempurnaan iman, dan iman tidak sempurna kecuali dengannya.

Kedua,termasuk kesempurnaan iman kepada rububiyah-Nya, karena takdir Allah termasuk perbuatan-Nya.

Ketiga,mengembalikan urusan manusia kepada Allah, karena jika seseorang mengetahui bahwa segala sesuatu terjadi dengan qadha dan takdir Allah, maka dia akan kembali kepada Allah dalam menolak dan menepis mudharat serta menisbatkan kebahagiaan kepada-Nya dan dia mengetahui bahwa itu adalah karunia Allah kepadanya.

Keempat, seseorang dapat mengenal batas kesanggupan dirinya, dan tidak bangga ketika beramal.

Kelima, ringannya musibah atas hamba, karena jika seseorang mengetahui bahwa musibah itu dari Allah, niscaya ringanlah baginya musibah tersebut.

Keenam, menisbatkan nikmat kepada pemberinya, karena jika engkau tidak beriman kepada qadar, niscaya engkau akan menisbatkan nikmat kepada perantara nikmat.

Ketujuh, mengetahui hikmah Allah Ta’ala.

Iman kepada qadar memiliki empat tingkatan:

Pertama: Al’Ilmu (Ilmu), yakni mengimani bahwa Allah dnegan ilmu-Nya, yang merupakan sifat-Nya yang azali dan abadi, Maha Mengetahui semua yang ada di langit dengan seluruh isinya, juga smeua yang ada di bumi dengan seluruh isinya, serta apa yang ada di antara keduanya; baik secara global maupun rinci; yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi.

Kedua: Al-Kitâbah (Penulisan), yakni mengimani bahwa Allah Ta’ala telah mencatat seluruh takdir makhluk di Al-Lauhul Mahfuzh. Oleh karena itu, apa yang telah ditakdirkan menimpa manusia tidak akan meleset darinya, dan apa yang ditakdirkan tidak mengenai manuisa maka tidak akan mengenainya, sudah kering tinta pena itu dan sudah ditutup catatan. Takdir ini mengikuti ilmu Allah, baik secara global maupun rinci. Pertama bahwa Allah Ta’ala telah mencatat dalam Al-Lauhul Mahfuzh, segala sesuatu yang dikehendakinya. Sedangkan, apabila Allah emnciptakan janin ketika mencapai usia empat bulan, maka Allah mengutus kepadanya seorang amalaikat yang diperintahkan untuk menulis empat hal: rizki, ajal, amal, dan celaka atau bahagianya. Kemudian yang harus diketahui oleh setiap muslim bahwa kita wajib mengimani qadha dan qadar yang baik dan buruk,manis dan pahit. Qadha dan qadar merupakan rahasia Allah yang tidak diketahui oleh seorang pun dari makhluk-Nya. Dan kewajiban kita adalah mengimani dan beramal sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya.

Ketiga: Al-Masyî`ah (Kehendak), yakni apa yang dikehendaki Allah pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi. Semua gerak-gerik yang terjadi di langit dan di bumi hanyalah dengan kehendak Allah, tidak ada sesuatu yang terjadi dalam kerajaan-Nya apa yang tidak diinginkan-Nya. Mengimani masyî`ah Allah Ta’ala yang pasti terlaksana dan qudrah (kekeuasaan) Allah yang mweliputi segala sesuatu.

Keempat: Al-Khalqu (Penciptaan), yakni bahwa Allah Maha Pencipta atas segala sesuatu,baik yang ada maupun yang belum ada. Oleh karena itu, tidak ada satu makhluk pun di bumi atau di langit, melainkan Allahlah yang menciptakannya, tiada pencipta selain Dia, tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah saja.

Demikianlahs secara ringkas tentang qadha dan qadar, yang akan dibahas secara detail dalam Silsilah Rasail di web ini, in syaa Allah. Berikutnya dalil-dali yang dibawakan oleh penulis terkait bab kita ini. Dalil pertama,

عَنْ طَاوُسٍ أَنَّهُ قَالَ أَدْرَكْتُ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُونَ كُلُّ شَيْءٍ بِقَدَرٍ قَالَ وَسَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ شَيْءٍ بِقَدَرٍ حَتَّى الْعَجْزِ وَالْكَيْسِ أَوْ الْكَيْسِ وَالْعَجْزِ

Dari Thawus dia berkata; “Aku pernah mendapati beberapa orang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan; ‘Segala sesuatu itu sesuai takdirnya.’ Ibnu Thawus berkata; ‘Aku pernah mendengar Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu mengatakan; ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: ‘Segala sesuatu itu sesuai takdirnya, hingga kelemahan dan kecerdasan (atau kecerdasan dan kelemahan).'” (Shahih. HR Muslim no. 2655)

Kedua,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ فَإِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلَاهُ فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Nasehatilah para wanita karena wanita diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok dan yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah pangkalnya, jika kamu mencoba untuk meluruskannya maka dia akan patah namun bila kamu biarkan maka dia akan tetap bengkok. Untuk itu nasehatilah para wanita“. (Shahih. HR Al-Bukhari no. 3331 dan Muslim no. 1468)

Dalam riwayat Muslim:

إِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ لَنْ تَسْتَقِيمَ لَكَ عَلَى طَرِيقَةٍ فَإِنْ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَبِهَا عِوَجٌ وَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهَا كَسَرْتَهَا وَكَسْرُهَا طَلَاقُهَا

Sesungguhnya seorang wanita di ciptakan dari tulang rusuk, dan tidak dapat kamu luruskan dengan cara bagaimanapun, jika kamu hendak bersenang-senang dengannya, kamu dapat bersenang-senang dengannya dan dia tetap saja bengkok, namun jika kamu berusaha meluruskannya, niscaya dia akan patah, dan mematahkannya adalah menceraikannya.

Penjelasan:

Hadits ini mengisyaratkan bahwa wanita diciptakan dari bagian tulang rusuk yang paling bengkok, sebagai perumpaan melekatnya sifat “bengkok” pada mereka. Kandungan hadits ini memberi perumpamaan pada bagian tubuh wanita yang paling atas. Sebab, bagian teratas dari tubuhnya adalah kepala, dan di kepalanya terdapat lidah yang merupakan sumber datangnya keburukan.

Hadits ini juga mengandung perintah agar melakukan pelurusan dengan cara yang lembut, tanpa berlebihan sehingga dapat mematahkannya. Tapi, bukan berarti membiarkannya begitu saja sehingga tetap dalam kebengkokannya. Oleh karena itu, suami tidak membiarkan istrinya dalam kebengkokan begitu saja apabila si istri berbuat sesuatu yang sudah tabiatnya terkait dengan kegemaran melakukan maksiat, terbiasa dalam melakukannya, atau meninggalkan perkara-perkara yang wajib. Adapun yang dimaksud dengan membiarkan sang istri dalam kebengkokannya adalah hanya dalam perkara-perkara yang mubah saja.

Dalil yang ketiga, dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Wahai kaum wanita! Bersedekahlah kamu dan perbanyakkanlah istighfar. Karena, aku melihat kaum wanitalah yang paling banyak menjadi penghuni neraka.”

Seorang wanita yang pintar di antara mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, kenapa kaum wanita yang paling banyak menjadi penghuni neraka?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. bersabda: “Kalian banyak mengutuk dan mengingkari (pemberian nikmat dari) suami. Aku tidak melihat mereka yang kekurangan akal dan agama yang lebih menguasai pemilik akal, daripada golongan kamu.”

Wanita itu bertanya lagi, “Wahai Rasulullah! Apakah maksud kekurangan akal dan agama itu?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Maksud kekurangan akal ialah persaksian dua orang wanita sama dengan persaksian seorang lelaki. Inilah yang dikatakan kekurangan akal. Begitu juga kaum wanita tidak mengerjakan shalat pada malam-malam yang dilaluinya kemudian berbuka pada bulan Ramadhan (karena haid). Maka inilah yang dikatakan kekurangan agama.” (Shahih. HR Muslim no. 79)

Penjelasan:

Ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Maka inilah yang dikatakan kekurangan agama,” mengenai hal ini, Imam Nawawi mengatakan, “Adapun penyifatan Nabi terhadap kaum wnaita dengan kurangnya agama, karena mereka harus meninggalkan shalat dan puasa pada masa-masa haid. Ada sebagian kalangan yang mempermasalahkan makna hadits ini, padahal maknanya tidak perlu dipermasalahkan, bahkan sudah jelas sekali. Sebab, agama, iman, dan Islam berpadu pada satu makna. Amal ketaatan juga disebut iman dan agama. Jika ini sudah jelas maka kita akan memahami bahwa orang yang amal ibadahnya semakin bertambah, kadar keimanan dan agamanya pun ikut bertambah. Dan orang yang berkurang amal ibadahnya, maka akan bekurang kadar agamanya.

Selanjutnya, terkadang kurangnya agama mengakibatkan pelakunya mendapatkan dosa seperti orang yang meninggalkan shalat, puasa, atau berbagai ibadah wajib lainnya tana ‘udzur. Adakalanya juga tanpa mengakibatkan dosa seperti orang yang sengaja meninggalkan shalat Jumat, perang, dan lain sebagainya bagi kalangan yang memang tidak diwajibkan untuk melaksanakannya. Ada juga yang memang dituntut untuk meninggalkannya seperti wanita haid yang wajib meninggalkan shalat dan puasa. Apabila ada yang bertanya, “Apabila memang wanita diberi ‘udzur (tidak melaksanakan shalat dan puasa), apakah wanita juga mendapat pahala shalat ketika sedang dalam masa haid meskipun ia tidak m4laksanakannya? Sebagaimana orang sakit dan musafir diberi dan dicatat pahala untuknya sepanjang sakit dan safarnya sebanding dengan shalat sunnah yang sebelumnya sering dilakukan semasa sehat dan mukim.” Jawabnya, “Hadits ini menunjukkan bahwa wanita tidak diberi pahala. Bedanya, orang sakit dan musafir melakukan shalat-shalat sunnah sebelumnya dengan niat merutinkan dan konsisten, sementara wanita haid tidak demikian. Namun, niatnya, yaitu meninggalkan shalat selama masa haid, bahkan ia juga dilarang berniat melaksanakan shalat selama masa haid. Begitu juga dengan musafir atau orang sakit yang melaksanakan shalat sunnah pada satu waktu tetapi meninggalkannya pada waktu lain, karena tidak ada niat melaksanakannya secara rutin. Ia tidak akan diberi pahala shalat-shalat sunnah selama safar maupun sakit bila ia tidak melakukannya.”

Catatan:

Dalam Al-Fiqhu A-Muyassar disbutkan bahwa terkait kesaksian,  jumlah saksi yang dibutuhkan berbeda-beda sesuai dengan obyek kesaksiannya.

  1. Zina dan homoseks, maka tidak diterima saksi yang kurang dari empat orang saksi laki-laki.
  2. Hukuman had lainnya seperti mencuri dan qadzaf, demikian juga urusan yang bukan harta dan bukan sarana harta, dan ia termasuk perkara yang secara umum diketahui oleh kaum laki-laki, seperti pernikahan, talak, rujuk, zhihar, nasab, wakalah wasiat dan lainnya; maka diperlukan dua orang saksi laki-laki. Kesaksian wanita tidak diterima dalam pembahasan ini.
  3. Masalah harta dan sarana harta, seperti jual beli, sewa-menyewa, masa pembayran, hutang piutang, gadai, titipan dan akad-akad harta yang sepertinya maka diperlukan dua orang saksi laki-laki atau satu laki-laki dan dua wanita.
  4. Untuk perkara yang secara umum tidak diketahui oleh kaum laki-laki, seperti cacat pada wanita yang tersembunyi, urusan status janda dan keperawanan, kelahiran, susuan, tangisan anak yang lahir (istihlal) dan yang sepertinya, maka kesaksian kaum wanita secara sendirian dalam urusan ini diterima. Satu orang wanita yang adil saja sudah cukup.
  5. Barangsiapa yang mengaku dirinya miskin setelah sebelumnya kaya, maka untuk menetapkannya dia itu miskin disyaratkan kesaksian tiga orang laki-laki.

Dalil yang keempat dalam bab ini ialah,

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَيْهَا وَحَاضَتْ بِسَرِفَ قَبْلَ أَنْ تَدْخُلَ مَكَّةَ وَهِيَ تَبْكِي فَقَالَ مَا لَكِ أَنَفِسْتِ قَالَتْ نَعَمْ قَالَ إِنَّ هَذَا أَمْرٌ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ فَاقْضِي مَا يَقْضِي الْحَاجُّ غَيْرَ أَنْ لَا تَطُوفِي بِالْبَيْتِ فَلَمَّا كُنَّا بِمِنًى أُتِيتُ بِلَحْمِ بَقَرٍ فَقُلْتُ مَا هَذَا قَالُوا ضَحَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَزْوَاجِهِ بِالْبَقَرِ

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menemuinya ketika berada di Sarif sebelum masuk ke Makkah, beliau mendapatinya sedang menangis karena datang bulan, lalu beliau bertanya: “Kenapa, apakah kamu sedang haid?” Aisyah menjawab; “Ya.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya hal ini telah di tetapkan Allah atas wanita-wanita anak keturunan Adam, lakukanlah apa yang biasa di kerjakan dalam berhaji, namun kamu jangan thawaf di Ka’bah.” Ketika kami sampai di Mina, aku di beri daging sapi, lantas tanyaku; “Daging apakah ini?” para sahabat menjawab; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyembelih binatang kurban berupa sapi untuk para istrinya.” (Shahih. HR Al-Bukhari no. 5548 dan Muslim no. 1211)

Penjelasan:

Kalimat, “Sesungguhnya hal ini telah di tetapkan Allah atas wanita-wanita anak keturunan Adam,” mengenai hal ini Imam Nawawi rahimahullâh menjelaskan, “Ungkapan ini bertujuan untuk menghibur dan meringankan kesedihan Aisyah. Maknanya, “Bukan hanya kamu yang dikhusukan mengalami haid, tetapi seluruh anak cucu perempuan Adam juga mengalaminya. Sebagaimana buang air kecil, buang air besar, dan aktifitas lainnya menjadi bagian dari tuntutan fisik kaum pria dan wanita. Al-Bukhari dalam Shahih-nya menjadikan keumuman hadits ini sebagai dalil bahwa haidh pasti dialami oleh seluruh wanita dari anak keturuanan Adam dan sekaligus membantah kalangan yang berpendapat bahwa haidh pertama kali diturunkan dan terjadi pada Bani Israil.”

Dalil kelima. Dalam riwayat Muslim dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa ia berkata; “Kami pernah keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak ada maksud lain kecuali untuk haji. Ketika sampai di Sarif, aku mengalami haidh, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menemuiku pada saat aku sedang menangis. Maka beliau pun bertanya, ‘Apa yang menyebabkanmu menangis?’

Aku menjawab, ‘Demi Allah, sekiranya aku tidak keluar untuk haji tahun ini.’

Beliau bertanya lagi, ‘Ada apa denganmu? Sepertinya engkau sedang haidh?’

Aku menjawab, ‘Ya.’

Beliau bersabda, ‘Ini adalah sesuatu yang yang telah ditetapkan oleh Allah atas kaum wanita dari anak keturunan Adam. Oleh karena itu lakukanlah sebagaimana yang biasa dilakukan oleh seseorang yang haji, hanya saja engkau tidak boleh thawaf di Baitullah hingga suci kembali.’

Aisyah berkata, “Ketika sampai di Mekah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabat, ‘Jadikan ihram kalian sebagai umrah.’ Maka orang-orang pun melakukan ihram untuk umrah, kecuali bagi yang membawa hadyu (hewan qurban). Yang membawa hadyu adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, Umar, dan mereka yang memiliki kendaraan. Maka saat istirahat, mereka pun membaca talbiyah. Ketika hari Nahar (tanggal 10 Dzulhijjah di mana jamaah haji berangkat dari Mudzalifah menuju Mina dan menyembelih hewan) tiba, aku suci dari haidhku, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mememrintahkanku untuk berangkat. Lalu kami diberi daging sapi maka aku pun bertanya, ‘Daging apa ini?’ Mereka menjawab, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelih qurban berupa sapi untuk istri-istrinya.’

Pada hari Hashabah (untuk melempar jumrah di Mina) aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, orang-orang pulang dengan membawa pahala haji dan umrah, sementara aku hanya membawa pahala haji.’ Akhirnya beliau memerintahkan Abdurrahman bin Abu Bakar (untuk menemani Aisyah umrah). Abdurahman memboncengku di atas untanya. Aku masih sangat ingat bahwa saat usiaku masih sangat muda. Aku mengantuk sampai-sampai wajahku tertunduk di atas unta hingga kami sampai di Tan’im. Kemudian, aku pun segera bertalbiyah untuk umrah, sebagaimana yang telah dikerjakan para sahabat yang lain.”

Wallahu ‘alam

Akhir malam tanggal 25 Dzulqa’dah 1440

Abu ‘Aashim asy-Syibindunji

Referensi:

Al-Fiqhu Al-Muyassar fî Dhau`il Kitâbi was Sunnah. Nukhbah minal Ulama. Ad-Dar Al-Alamiyyah, Kairo.

Syarh Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah. Ust. Yazid Abdul Qadir Jawas. Pustaka Imam Syafi’i, Jakarta.

Syarh Al-Aqîdah Al-Wasithiyyah.  Syekh Muhamamd bin Shalih al-‘Utsaimin. Muassasah Syekh, KSA.

Tinggalkan komentar