Sifat Wanita Muslimah: Bertaubat

Kita lanjutkan kembali pelajaran kita tentang sifat wanita muslimah. Sebelumnya telah kita ulas sifat yang pertama yakni ikhlas dan jujur kepada Allah. Kini sifat yang kedua yaitu bertaubat, kembali kepada Allah Ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Dan bertaubatlah kalian semua kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya kalian beruntung.” (QS An-Nur [24]: 31)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahmatullah ‘alaihi berkata,

“Artinya, kerjakanlah segala sesuatu yang telah Aku perintahkan kepada kalian, yaitu dengan menghiasi diri dengan sifat-sifat yang terpuji dan akhlak-akhlak yang mulia ini. Tinggalkanlah tradisi masa lalu di zaman Jahiliyah, yaitu dengan meninggalkan sifat dan akhlaknya yang rendah, karena sesungguhnya keberuntungan yang paling prima berada dalam jalan mengerjakan segala sesuatu yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya,dan meninggalkan segala sesuatu yang dilarang oleh keduanya. Hanya kepada Allah sajalah kita memohon pertolongan.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ يَوْمَ لَا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia; sedangkan cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka sambil mereka mengatakan, “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS At-Tahrim [66]: 8)

Beliau menyebutkan, “Yakni taubat yang sebenar-benarnya lagi pasti, maka akan terhapuslah semua kesalahan yang terdahulu. Dan taubat yang sebenarnya dapat merapikan diri pelakunya dan menyegarkannya kembali serta menjadi benteng bagi dirinya dari mengerjakan perbuatan-perbuatan yang rendah.”

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا  إِلا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلا يُظْلَمُونَ شَيْئًا

“Maka datanglah sesudah mereka pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan salat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan, kecuali orang yang bertaubat, beriman, dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikit pun.” (QS Maryam [19]: 59 – 60)

Setelah menyebutkan tentang golongan orang-orang yang berbahagia, yaitu para nabi dan para pengikutnya yang mengikuti jejak mereka dan menegakkan batasan-batasan Allah lagi menunaikan perintah-perintah­Nya serta mengerjakan semua yang difardhukan-Nya dan meninggalkan semua yang dilarang oleh-Nya

Apabila mereka menyia-nyiakan shalat, berarti terhadap kewajiban-kewajiban lainnya lebih menelantarkan lagi; karena shalat adalah tiang agama dan pilar penyanggahnya serta amal yang paling baik. Akibatnya mereka menjadi orang-orang yang memperturutkan hawa nafsunya dan memburu kesenangan serta rela dengan kehidupan dunia; mereka merasa tenang dengan kehidupan dunia. Orang-orang yang berperangai demikian kelak akan menemui kesesatan, yakni kerugian di hari kiamat.

Kecuali orang yang bertaubat, tidak meninggalkan shalat lagi, dan tidak lagi memperturutkan hawa nafsunya; maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya dan menjadikan baginya akhir yang baik, serta menjadikannya sebagai salah seorang yang berhak menghuni surga yang penuh dengan kenikmatan.

Karena itulah mereka yang bertaubat tidak dikurangi dari amal kebajikan mereka barang sedikit pun, tidak pula dibandingkan dengan dosa yang sebelumnya yang menyebabkan amal perbuatan sesudahnya dikurangi. Demikian itu karena dosa yang telah dilakukannya dianggap sia-sia dan dilupakan serta dihapuskan sama sekali, sebagai karunia dari Allah Yang Mahamulia lagi Maha Penyantun terhadap hamba-hamba-Nya yang bertobat. (Lihat lengkapnya di Tafsîr Al-Qur`ânul ‘Azhîm pada tafsir surat ini)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلا بِالْحَقِّ وَلا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا  . يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا . إِلا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا  وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا

“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina. Barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertobat, beriman, dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang yang bertobat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (QS Al-Furqan [25]: 68 – 71)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahmatullah ‘alaih berkata,

“Di dalam kandungan ayat ini terdapat makna yang menunjukkan bahwa taubat orang yang pernah membunuh dapat diterima.”

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitahukan tentang rahmat-Nya yang ditujukan kepada semua hamba-Nya secara umum, bahwa barang siapa di antara mereka yang bertaubat kepada-Nya dari dosa apa pun yang telah dilakukannya, baik kecil maupun besar, niscaya Allah akan menerima tobatnya.

Adapun hadits-hadits yang berkaitan dnegan topik ini antara lain:

Pertama: Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Wahai manusia! Bertaubtlah kalian kepada Allah. Sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari kepada-Nya sebanyak seratus kali.” (Shahih. HR Muslim no. 2702)

Kedua: Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallan bersabda,

“Allah merasa bergembira karena taubatnya seorang hamba yang beriman melebihi kegembiraan seseorang berada di gurun sahara yang mencekam dengan ditemani hewan tunggangannya serta perbekalan makanan dan minuman, kemudian ia tertidur. Ketika ia terbangun dari tidurnya, ternyata hewan tunggangannya terlepas dengan membawa perbekalan makanan dan minumannya. Kemudian orang tersebut mencari hewan tunggangannya tersebut ke sana kemari hingga ia merasa haus.

Setelah itu, ia pun berkata; ‘Sebaiknya aku kembali saja ke tempat tidurku semula sampai aku mati.’

Tak lama kemudian orang tersebut telah membaringkan tubuhnya dengan meletakkan kepalanya di atas lengannya dan bersiap-siap untuk mati. Ketika ia terbangun, ternyata hewan tunggangannya itu telah berada di sisinya dengan membawa bekal makanan dan minumannya.

Sunguh kegembiraan Allah karena taubatnya seorang hamba-Nya yang beriman melebihi kegembiraan orang yang hewan tunggangannya terlepas lalu kembali dengan membawa perbekalan makanan dan minumannya ini.” (Shahih. HR Muslim no 2744)

Penjelasan:

Dawiyah mulikah menurut penjelasan Imam Nawawi rahmatullah ‘alaih, bahwa pakar bahasa mengatakan, “Ad-Dawiyah bermakna tanah yang tandus dan tidak berpenghuni. Al-Khalil rahmatullah ‘alaih menyebutkan, “Maksudnya adalah padang pasir.”

Adapun makna al-muhlikah adalah sebuah tempat yang hampir binasa. Ada yang menyebutkan bahwa al-muhlikah berarti padang pasir yang tandus. Ada juga yang menyebutkan bahwa maksudnya sama dengan perkataan orang-orang, ‘orang itu beruntung jika ia bisa mati.’ Ungkapan itu dalam rangka mengharapkan nasib baik untuk orang tersebut agar ia bebas dan dapat melepaskan diri dari penderitaan yang menimpanya. Sebagaimana kata-kata yang biasa diungkapkan kepada orang yang terkena sengatan berbisa, ‘salim (ia pasti sembuh).’ (Lihat Syarh Shahîh Muslim, XVII/65)

Ketiga: Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

“Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan senantiasa membuka lebar-lebar tangan-Nya pada malam hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa pada siang hari dan Allah senantiasa akan membuka tangan-Nya pada siang hari untuk menerima taubat orng yang berbuat dosa pada malam hari, dan yang demikian terus berlaku hingga matahari terbit dari barat.” (Shahih. HR Muslim no. 2759)

Keempat: Dari ‘Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu, bahwa seorang wanita dari Juhainah datang menghadap kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, padahal dia sedang hamil akibat melakukan zina. Wanita itu berkata, “Wahai Rasulullah, aku telah melanggar hukum, oleh karena itu tegakkanlah hukuman itu atasku.”

Lalu Nabi Allah memanggil wali perempuan itu dan bersabda kepadanya: “Rawatlah wanita ini sebaik-baiknya, apabila dia telah melahirkan, bawalah dia ke hadapanku.”

Lalu walinya melakukan pesan tersebut. setelah itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk merajam wanita tersebut, maka pakaian wanita tersebut dirapikan (agar auratnya tidak terbuka saat dirajam). Kemudian beliau perintahkan agar ia dirajam.

Setelah dirajam, beliau menshalatkan jenazahnya, namun hal itu menjadkan Umar bertanya kepada beliau, “Wahai Nabi Allah, perlukah dia dishalatkan? Bukankah dia telah berzina?”

Beliau menjawab: “Sungguh, dia telah bertaubat kalau sekiranya taubatnya dibagi-bagikan kepada tujuh puluh orang penduduk Madinah, pasti taubatnya akan mencukupi mereka semua. Adakah taubat yang lebih utama daripada menyerahkan nyawa kepada Allah Ta’ala secara ikhlas?” (Shahih. HR Muslim no. 1696)

Kelima: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Buraidah dari ayahnya, bahwa Ma’iz bin Malik al-Aslami pergi menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku, karena aku telah berzina, oleh karena itu aku ingin agar anda berkenan membersihkan diriku.” Namun beliau menolak pengakuannya.

Keesokan harinya, dia datang lagi kepada beliau sambil berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah berzina.” Namun beliau tetap menolak pengakuannya yang kedua kalinya.

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus seseorang untuk menemui kaumnya dengan mengatakan: “Apakah kalian tahu bahwa pada akalnya Ma’iz ada sesuatu yang tidak beres yang kalian ingkari?” mereka menjawab, “Kami tidak yakin jika Ma’iz terganggu pikirannya, setahu kami dia adalah orang yang baik dan masih sehat akalnya.”

Untuk ketiga kalinya, Ma’iz bin Malik datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk membersihkan dirinya dari dosa zina yang telah diperbuatnya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun mengirimkan seseorang menemui kaumnya untuk menanyakan kondisi akal Ma’iz, namun mereka membetahukan kepada beliau bahwa akalnya sehat dan termasuk orang yang baik.

Ketika Ma’iz bin Malik datang keempat kalinya kepada beliau, maka beliau memerintahkan untuk membuat lubang ekskusi bagi Ma’iz. Akhirnya beliau memerintahkan untuk merajamnya, dan hukuman rajam pun dilaksanakan.”

Buraidah melanjutkan, “Suatu ketika ada seorang wanita Ghamidiyah datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, diriku telah berzina, oleh karena itu sucikanlah diriku.”

Tetapi untuk pertama kalinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menghiraukan bahkan menolak pengakuan wanita tersebut.

Keesokan harinya wanita tersebut datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sambil berkata, “Wahai Rasulullah, kenapa anda menolak pengakuanku? Sepertinya anda menolak pengakuan aku sebagaimana pengakuan Ma’iz. Demi Allah, sekarang ini aku sedang mengandung bayi dari hasil hubungan gelap itu.”

Mendengar pengakuan itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sekiranya kamu ingin tetap bertaubat, maka pulanglah sampai kamu melahirkan.”

Setelah melahirkan, wanita itu datang lagi kepada beliau sambil menggendong bayinya yang dibungkus dengan kain, dia berkata, “Inilah bayi yang telah aku lahirkan.”

Beliau lalu bersabda: “Kembali dan susuilah bayimu sampai kamu menyapihnya.”

Setelah memasuki masa sapihannya, wanita itu datang lagi dengan membawa bayinya, sementara di tangan bayi tersebut ada sekerat roti, lalu wanita itu berkata, “Wahai Nabi Allah, bayi kecil ini telah aku sapih, dan dia sudah dapat menikmati makanannya sendiri.”

Kemudian beliau memberikan bayi tersebut kepada laki-laki muslim, dan memerintahkan untuk melaksanakan hukuman rajam. Akhirnya wanita itu ditanam dalam tanah hingga sebatas dada. Setelah itu beliau memerintahkan orang-orang supaya melemparinya dengan batu.

Sementara itu, Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu ikut serta melempari kepala wanita tersebut dengan batu, tiba-tiba percikan darahnya mengenai wajah Khalid, seketika itu dia mencaci maki wanita tersebut. Ketika mendengar makian Khalid, Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tenangkanlah dirimu wahai Khalid, demi dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya perempuan itu telah benar-benar bertaubat, sekiranya taubat (seperti) itu dilakukan oleh seorang pelaku dosa besar niscaya dosanya akan diampuni.”

Setelah itu beliau memerintahkan untuk menshalati jenazahnya dan menguburkannya.” (Shahih. HR Muslim no. 1695)

Keenam: Telah menceritakan kapadaku ‘Urwah bin Az Zubair bahwa ada seorang wanita yang mencuri saat peperangan pembebasan Makkah, kemudian wanita dibawa ke hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu Beliau memerintahkan untuk memotong tangan wanita tersebut. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Wanita tersebut menindaklanjuti taubatnya dengan baik, lalu wanita itu menikah. Setelah itu, suatu hari wanita itu datang untuk menyampaikan kebutuhannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam”. (Shahih. HR AL-Bukhari no. 6248)

Ketujuh: Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Andai kata anak itu memiliki emas satu lembah, niscaya ingin memiliki satu lembah lagi. Tidak ada yang dapat mengisi mulut (hawa nafsu) -nya melainkan tanah (maut). Dan Allah menerima taubat siapa saja yang bertaubat kepada-Nya.” (Shahih. HR Muslim no. 1048)

Faedah:

Imam Nawawi rahmatullah ‘alaihi menjelaskan bahwa para ulama berkata, “Taubat wajib bagi setiap dosa. Jika dosa itu antara seorang hamba dan Allah tanpa ada pelanggaran hak terhadap manusia, baginya ada tiga syarat yang harus dipenuhi. (1) berhenti dari perbuatan seketika itu juga, (2) menyesali perbuatannya, dan (3) berniat tidak mengulangi perbuatan tersebut. Apabila kurang salah satunya, taubatnya tidak sah.

Adapun jika dosa atau maksiat itu menyangkut hak manusia, syarat taubat menjadi empat. Tiga di antaranya telah disebutkan di atas, dan (4) yaitu membebaskan diri dari hak manusia yang dizalimi. Jika itu menyangkut harta atau barang seseorang, caranya adalah dengan mengembalikan harta atau barang tersebut. Jika itu menyangkut selainnya seperti pernah memfirnah, hendaknya dia meminta maaf kepada orang yang bersangkutan. Jika ia melakukan ghibah, hendaknya meminta pada yang bersangkutan agar perbuatannya dihalalkan.

Taubat atas semua dosa adalah wajib. Namun, taubat atas sebagian dosa tertentu tetap sah hanya pada dosa tersebut, sedangkan dosa yang lain masih. Itulah pendapat ahlul haq. Bebagai dalil mengenai wajibnya taubat telah dijelaskan dalam Al-Qur`an, as-sunnah, dan ‘ijma’. (Lihat Riyadhus Shâlihîn hal. 49)

Wallahu a’alam.

Materi untuk RTDA

Lewat tengah malam di malam Ahad

Abu ‘Aashim asy-Syibindunji

Referensi:

Shifâtul Mar`ah Al-Muslimah fî Dhau`il Kitâbi was Sunnah karya Ummu Usamah binti ‘Ali al-Abbasiyah. Penerbit Darul Imam Al-Wadi’i, Yaman.

Tafsîr Al-Qur`ânul ‘Azhîm karya Al-Hafizh Abul Fida` Ismail bin Katsir. Penerbit Darul Hadits, Kairo.

Tinggalkan komentar