Mukadimah Syarah Kitab Akhsharul Mukhtasharât

Suatu hal yang telah diketahui bersama, bahwa ada dua ilmu yang penting sekali untuk dipelajari oleh seseorang yakni tauhid dan fikih. Tauhid adalah ilmu yang seseorang itu dengannya mengetahui kesahan dalam keyakinan-keyakinannya. Adapun fikih adalah ilmu yang seseorang itu dengannya mengetahui kesahan dalam ibadah dan muamalah-muamalahnya.

Dikesempatan ini, pembahasan kita adalah tentang masalah fikih. Adapun tauhid, in syaa Allah sudah ada kategori tersendiri yakni pada Silsilah Rasail di web ini.

Fikih secara bahasa adalah al-fahmu, paham. Sedangkan secara istilah adalah mengetahui hukum-hukum syariat yang berupa amaliah yang diperoleh dari dalil-dalil yang rinci. Maksud dari mengetahui hukum-hukum syariat artinya ialah bukan hukum-hukum selain syariat. Berupa amaliah maksudnya bukan termasuk hukum-hukum i’tiqadi (keyakinan). Diperoleh dari dalil-dalil yang rinci maksudnya bukan dari dalil-dalil yang global, jika diambil dari dalil-dalil yang global dinamakan ushul fikih bukan fikih.

Pembahasan fikih ini, saya ambil dari tafrîgh penjelasan Syaikh Muhammad bin Ahmad Bajabir hafizhahullâh atas kitab Akhsharul Mukhtasharât fîl Fiqhi ‘alâ Madzhab Al-Imâm Ahmad ibn Hanbal  karya Al-Imam Muhammad bin Badran bin Abdil Qadir bin Balban al-Khazraji ash-Shalihi ad-Dimasyqi al-Hambali. Penjelasan Syaikh sangat berharga sekali, sayang jika tidak saya abadikan di laman daring ini agar faedah dapat dirasakan oleh warganet lainnya. Saya ringkas penjelasan beliau dan menambah beberapa hal jika dirasa hal itu perlu. Semoga Allah Ta’ala memberikan saya pertolongan dan kekuatan atas usaha saya ini, dan semoga usaha ini sebagai pemberat timbangan amal kebaikan dan penghapus dosa-dosa saya, âmîn.

Sebelum kita mulai, pertama yang perlu kita ketahui adalah tentang penulis kitab. Beliau Imam Ibnu Balban al-Hambali ‘alaihi rahmatullâh adalah seorang fakih, muhadits, dan seorang yang zuhud salah satu dari ulama Syam.  Dilahirkan tahun 1006 H, wafat tahun 1083 H. Kitab Akhsharul Mukhtasharât ini merupakan ringkasan atas kitab yang beliau tulis sendiri berjudul Al-Kâfî Al-Mubtadî, ini yang kedua. Syarah atas kitab ini berjudul Ar-Raudhun Nadî fî Syarhi Al-Kâfî Al-Mubtadî  karya Al-Imam Ahmad bin Abdillah al-Ba’ili ad-Dimasyqi al-Hambali yang wafat tahun 1189 H.

Kitab Akhsharul Mukhtasharât memiliki banyak syarah diantaranya Kasyful Mukhadarât Syarh Akhsharul Mukhtasharât karya Al-Imam Abdirrahman bin Abdillah al-Ba’ili, wafat 1192 H. Ada juga Al-Fawâ`id Al-Muntakhabât fî Syarhi Akhsharil Mukhtasharât karya Syaikh Utsman bin Jami’ an-Najdi, hakim di Bahrain, wafat 1240 H. Dan syarah yang terkini yang saya ketahui ialah Al-Hawâsyi As-Sâbighât ‘alâ Akhsharil Mukhtasharât karya Syaikh Shalih-al-Qu’aimi  hafizhahullâh, seorang ulama dan mudaris fikih Hambali di Masjid Nabawi.

Yang ketiga ialah tentang musthalahat dalam pembahasan ini. Jika disebut riwâyah maksudnya ialah perkataan dari Al-Imam Ahmad. Jika disebut wajh maksudnya ialah perkataan para imam mazhab; apakah perkataan itu dari sebagian mereka, mayoritas, atau semuanya. Jika disebut shâhib maksudnya ialah salah satu imam dari imam-imam yang ada dalam mazhab ini.

Wallahu a’lam.

Salatiga, awal Dzulqa’dah 1440

Abu ‘Aashim asy-Syibindunji

Tinggalkan komentar