Kebahagiaan Itu …

Kebahagiaan, itulah yang dicari oleh setiap manusia. Dalam rangka mencari kebahagiaan itu, sebagian orang menempuh cara yang tidak diizinkan oleh syariat. Karena dalam kamusnya hanyalah bagaimana agar bisa bahagia, adapun caranya seperti apa itu nomor dua. Tidak ada yang mengekangnya kecuali hawa nafsu yang membara. Tidak ada yang dijadikannya penunjuk jalan, kecuali setanlah penunjuknya. Setan membuatkan tanda-tanda kebahagiaan bagi mereka, padahal fana. Setan menghiasinya seolah itu surga, padahal neraka.

Adapun orang-orang yang beriman, mereka mengetahui tanda-tanda kebahagiaan. Salah satu dari tanda kebahagiaan itu ialah mengikuti petunjuk Rasul-Nya yang mulia dalam setiap perkara kehidupannya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullaah berkata:

“Sesungguhnya tidak ada kebahagiaan bagi seorang hamba, dan tidak ada keselematan di akhirat kecuali dengan mengikuti rasul-Nya,

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهارُ خالِدِينَ فِيها وَذلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (*) وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خالِداً فِيها وَلَهُ عَذابٌ مُهِينٌ

Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.” (QS An-Nisaa` [4]: 13 – 14)

Maka menaati Allah dan rasul-Nya merupakan poros kebahagiaan yang berlaku atas setiap perkara dan telah pasti bahwa keselamatan itu yang berasal darinya, bukan dari jalan yang menyimpang.”

Lalu beliau melanjutkan, “Allah Ta’aala telah menciptakan  makhluk-Nya untuk beribadah kepada-Nya. Sebagaimana Dia berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS Adz-Dzaariyaat [51]: 56)

Yang dimaksud dengan para hamba itu “menyembah-Ku” adalah dengan menaati-Nya dan rasul-Nya. Tidak ada ibadah kecuali apa-apa yang telah diwajibkan atau mustahab dalam agama Allah. Maka selain itu, merupakan penyimpangan dari jalan-Nya.

Oleh karena itu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang amalan tersebut tidak di atas perintah kami, maka amalan itu tertolak.” [1] Diriwayatkan di Shahihayni.

Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda di hadits Al-‘Irbaad bin Saariyah radhiyallaahu ‘anhu yang dirwayatkan oleh Ahlussunan[2] dan dishahihkan oleh At-Tirmidzi.

Sesungguhnya barangsiapa dari kalian yang hidup sepeninggalku, akan mendapati perselisihan yang banyak. Maka wajib atas kalian memegang sunnahku dan sunnah para khalifah setelahku yang mendapatkan petunjuk. Pegang eratlah hal tersebut dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Hati-hatilah dari perkara baru dalam agama. Karena perkara baru dalam agama adalah bid’ah.” [3]

Dan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dan selainnya, bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam khutbahnya,

Sebaik-baik perkataan adalah firman Allah. Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuknya Muhammad. Dan seburuk-buruknya suatu perkara adalah perkara yang diadakan-adakan dalam agama. Dan setiap bid’ah itu sesat.”[4]

Katanya lagi, “Allah Ta’aala telah menyebutkan tentang menaati dan mengikuti rasul-Nya di empat puluh tempat dari Al-Qur`an. Seperti firman-Nya Ta’aala,

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطاعَ اللَّهَ

Barang siapa yang menaati rasul, sesungguhnya ia telah menaati Allah.” (QS An-Nisaa` [4]: 80)

وَما أَرْسَلْنا مِنْ رَسُولٍ إِلاَّ لِيُطاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جاؤُكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّاباً رَحِيماً (*) فَلا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيما شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجاً مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيماً

Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu. lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang. Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”  (QS An-Nisaa` [4]: 64 – 65)

قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ

Katakanlah, ‘Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kalian berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.’” (QS Ali ‘Imraan [3]: 32)

Dan Allah Ta’aala berfirman,

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah, ‘Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian,’  Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Ali ‘Imraan [3]: 31)

Maka dijadikannya kecintaan seorang hamba kepada Rabbnya mewajibkan dia untuk mengikuti rasul-Nya. Dan dijadikannya mengikuti rasul merupakan sebab Allah mencintai seorang hamba. “

Kemudian  beliau rahimahullaahu menyampaikan bahwa, “Allah Ta’aala berfirman,

وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلا الإيمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Dan demikianlah Kami wahyu­kan kepadamu wahyu (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS Asy-Syuura [42]: 52)

Allah mewahyukan kepada rasul-Nya (berupa Al-Qur`an), yang dengannya Allah memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari para hamba-Nya. Sebagaimana Allah Ta’aala berfirman,

قُلْ إِنْ ضَلَلْتُ فَإِنَّمَا أَضِلُّ عَلَى نَفْسِي وَإِنِ اهْتَدَيْتُ فَبِمَا يُوحِي إِلَيَّ رَبِّي إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ

Katakanlah, ‘Jika aku sesat, maka sesungguhnya aku sesat atas kemudaratan diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Mahadekat.’” (QS Saba` [34]: 50)

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا مِمَّا كُنْتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ (*) يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kalian Rasul Kami, menjelaskan kepada kalian banyak dari isi Al-Kitab yang kalian sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Se­sungguhnya telah datang kepada kalian cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (QS Al-Maa`idah [5]: 15 – 16)

Maka dengan diutusnya Rasulullah Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam terbedakanlah antara  kufur dengan  iman, keselamatan dengan malapetaka, kesesatan dengan petunjuk, penduduk surga dengan penduduk neraka, dan orang-orang yang bertakwa dengan orang-orang yang berdosa. Dan tampaklah perbedaan antara jalannya orang-orang yang Allah beri nikmat dari kalangan para nabi, shidiqin, syuhada, dan shalihin; dengan jalannya orang-orang yang dimurkai dan sesat.”

Inilah tanda kebahagiaan seseorang. Dengan mengikuti tanda ini, ia akan terbimbing dan selamat di dunia dan di akhirat. Adapun jika ia mengikuti jalan-jalan selain jalan-Nya, tentu setanlah yang akan membimbingnya dan menjerumuskannya ke dalam api neraka.

Ya Allah! Jadikanah kami orang-orang yang senantiasa mengikuti petunjuk rasul-Mu dan berilah kami keistiqamahan di dalamnya. Serta jauhilah kami dari jalan-jalan setan dan para penyerunya. Aamiin.

Selesai disusun sembari menikmati kopi banaran, akhir Syawal 1440

Abu ‘Aashim Asy-Syibindunji

Artikel: www.sunnahedu.com

Referensi:

Majmuu’atul Fataawaa karya Syaikhul Islam Taqiyuddin Ahmad bin Taimiyah al-Haraani. Penerbit Darul Hadits, Kairo. Jilid 1 hal. 171 – 172.

Footnote:

[1] Shahih. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (7962), dengan lafaz, “Barangsiapa yang melakukan perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada perintah di dalamnya, maka perkara itu tertolak.” Dari hadits ‘Aa`isyah radhiyallaahu ‘anha.

[2] Yakni para penulis kitab sunan seperti Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasaa`i, dan Ibnu Maajah.

[3] Shahih. Riwayat Abu Dawud (4607), At-Tirmidzi (2685), Ibnu Maajah (42), Ahmad (4/126), Ad-Daarimi (59), dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (1107). Dishahihkan oleh Al-Albaani dalam Shahiih Abi Daawud.

[4] Shahih. Riwayat Muslim (867), An-Nasaa`i (3/188), Ibnu Maajah (45), dan Ahmad (3/310) semuanya dari hadits Jaabir bin Abdillah radhiyallaahu ‘anhu.

Tinggalkan komentar