Tingkatan Puasa Menurut Imam Al Ghazali

Hujjatul Islam Abu Hamid Al Ghazali rahimahullaaah adalah nama yang tidak asing lagi bagi kita. Seorang tokoh sufi; ahli dalam bidang ushul fiqih dan filsafat; bermazhab Syafi’iyah dalam fikih, Asy’ariyah dalam aqidah. Salah satu karyanya yang fenomenal adalah kitab Al Ihya` ‘ulumuddin.

Di dalamnya banyak dikupas tentang masalah zuhud yang bagus sekali hanya saja kitabnya tersebut dipenuhi dengan hadits-hadits yang tidak ada asal-usulnya. Imam As Subki Asy Syafi’i rahimahullaah dalan Ath Thabaqaat Asy Syafi’iyyah juz 6 hal. 287-288 telah mengumpulkan hadits-hadits yang terdapat dalam Al Ihya` dan menemukan 943 hadits yang tidak diketahui sanadnya. Abu Fadhl Al Iraqi rahimahullah telah mentakhrij hadits-hadits yang ada dalam Al Ihya` didapatkan kebanyakan hadits-hadits tersebut berderajat dhaif (lemah) dan maudhu`(palsu) atau tidak ada asalnya dari Rasulullah shallallaahu ‘alahi wa sallam. Hal ini dapat dimaklmui karena Al Ghazali bukanlah seorang ahli hadits, sebab hidupnya ia dermakan untuk filsafat.

Terlepas dari kekurangan yang ada, kitabnya Al Ihya` ‘Ulumuddin dijadikan sebagai referensi dalam menulis karya yang berkaitan dengan zuhud, tentunya dengan menyaring hadits-hadits dhaif dan maudhu`. Salah satunya ialah Al Imam Jamaluddin Ibnul Jauzi Al Hambali rahimahullaah dengan karyanya Minhaajul Qashidin. Lalu kitab ini diringkas oleh Ibnu Qudamah Al Maqdisi Al Hambali, diberi judul Mukhtashar Minhaajul Qashidin.

Saya rasa cukup tiga paragraf untuk menggambarkan penulis dan kitabnya. Sekarang kita masuk kepada pembahasan dalam Kitab Puasa di kitab Al Ihya` tersebut, yakni tentang maraatibush shaum (tingkatan puasa). Hal inipun disebutkan oleh Ibnu Qudamah Al Maqdisi Al Hambali secara global di Mukhtashar Minhaajul Qashidin hal. 44 terbitan Maktabah Daarul Bayaan, Beirut.

Abu Hamid Al Ghazali rahimahullaah berkata,

اعلم أن الصوم ثلاث درجات: صوم العموم، وصوم الخصوص، وصوم خصوص الخصوص

“Ketahuilah, bahwa puasa itu ada tiga tingkatan (level): puasa umum, puasa khusus, dan puasa yang lebih khusus lagi.”

Lalu beliau memerincinya.

 أما صوم العموم فهو كف البطن والفرج عن قضاء الشهوة

“Puasa umum adalah menahan perut (dari makan dan minum) dan kemaluan dari syahwat.”

وأما صوم الخصوص فهو كف السمع والبصر واللسان واليد والرجل وسائر الجوارح عن الآثام

“Puasa khusus adalah (mengerjakan puasa umum di atas) juga menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki, dan semua anggota badan dari berbuat dosa.”

وأما صوم خصوص الخصوص فصوم القلب عن الصفات الدَنِّيَة، والأفكار الدنيوية

 وكفه عما سوى الله عز وجل بالكلية

“Puasa yang lebih khusus lagi maksudnya adalah mempuasakan hati dari sifat-sifat hina dan segala pikiran duniawi serta mencegahnya memikirkan segala hal selain Allah.”

Puasa ketiga ini adalah puasa tingkatannya para nabi, shiddiqin, dan muqarabin. Sedangkan puasa kedua adalah puasanya orang-orang shaleh, puasa tingkatan kedua  inilah yang seyogyanya kita tuju untuk mencapainya.

Lalu, Imam Al Ghazali rahimahullaah menjelaskan enam hal untuk mencapai puasa tingkatan kedua. Katanya,

وقد ذكر أن صوم الخصوص – وهو صوم الصالحين – إنما يحصل بستة أمور

“Telah disebutkan bahwa puasa khusus itu adalah puasanya orang-orang shaleh. Sesungguhnya ia dapat dicapai dengan enam perkara.”

  غض البصر، وكفه عن الاتساع في النظر إلى كل ما يُذّم ويُكْره وإلى كل ما يُشغل القلب، ويلهي عن ذكر الله عز وجل

Pertama: Ghudul bashar (menundukkan pandangan) dari segala hal melihat yang tercela dan makruh, serta dari setiap hal yang dapat memalingkan dan melalaikan hati dari mengingat Allah ‘Azza wa Jalla.”

حفظ اللسان عن الهذيان والكذب والغيبة والنميمة والفحش والجفاء والخصومة والمِراء، وإلزامه السكوت وشغله بذكر الله سبحانه وتلاوة القرآن

Kedua: Hifzhul lisan (menjaga lisan) dari perkataan yang sia-sia, dusta, ghibah, adu domba, keji, berkata yang tidak ada harganya, berselisih, menipu, dan mengharuskan berdiam diri untuk menyibukkan diri dengan dzikirullah dan membaca Al-Qur`an.”

كفُّ السمع عن الإصغاء إلى كل مكروه؛ لأن كل ما حَرُمَ قوله حَرُم الإصغاء إليه

Ketiga: Kaffus sam’i  (menjaga pendengaran) dari mendengar setiap kata-kata yang dimakruhkan (dibenci). Karena tiap-tiap yang haram untuk diucapkan maka haram pula untuk mendengarkannya.

كفُّ بقية الجوارح عن الآثام من اليد والرجل عن المكاره، وكفُّ البطن عن الشبهات وقت الإفطار

Keempat: Mencegah anggota-anggota badan lain dari berbuat dosa. Seperti mencegah tangan dan kaki dari perbuatan yang dibenci dan mencegah perut dari memakan makanan yang syubhat ketika berbuka.

أن لا يستكثر من الطعام الحلال وقت الإفطار، بحيث يمتلىء جوفه

Kelima: Tidak berlebih-lebihan dari memakan makanan yang halal ketika berbuka, sampai perutnya penuh dengan makanan.

أن يكون قلبه بعد الإفطار معلقاً مضطرباً بين الخوف والرجاء  

Keenam: Hatinya senantiasa diliputi rasa khauf (cemas) dan rajaa` (harap).” Mengapa perlu kedua hal ini? Sebab kita  tidak tahu apakah puasa kita diterima atau tidak oleh Allah. Rasa khauf diperlukan untuk meningkatkan kualitas puasa yang telah dilakukan, sedangkan rajaa`  berperan dalam menumbuhkan rasa optimisme.

Wallaahu a’lam.

Malam kala 7 Ramadhan 1440

Abu ‘Aashim Asy Syibindunji

Referensi:

Maraatibus Shaum dari Ihya` ‘Ulumuddin. Abu Hamid Al Ghazali Asy Syafi’i. Website islamweb {dot} net.

Mukhtashar Minhaajul Qashidin. Ibnu Qudamah Al Hambali. Tahqiq Syua’ib Al Arnauth. Daarul Bayaan, Beirut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *