Wajib Memeluk Agama Islam

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS Ali Imran [2]: 85)

Tafsir Ayat
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam maka amalannya tertolak, tidak diterima. Karena agama Islam adalah penyerahan diri kepada Allah; pemurnian ibadah kepada-Nya; dan mengimani rasul-Nya. Maka seorang hamba yang tidak datang dengan beragama Islam, dia tidak akan mendapatkan sebab keselamatan dari adzab Allah dan kemenangan berupa pahala. Dan perkataan bahwa semua agama itu sama adalah perkataan batil.” ( Taisir Karimirrahman, hal. 121)

Faedah Ayat
Pertama: Ayat di atas menunjukkan akan kewajiban masuk ke dalam agama Islam. Karena Allah Ta’ala menyebutkan bahwa orang yang mengambil agama selain agama Islam maka tidak diterima darinya agama tersebut. Di akhirat, dia termasuk orang yang merugi. ( ‘Ilamul Anam, hal. 51)

Kedua: Dalam Silsilah Syarh Rasail (hal. 23-34) disebutkan bahwa syubhat yang banyak dihembuskan oleh orang-orang jahat ialah mereka mengatakan, “Mereka yakni Yahudi, Nashrani, Majusi, dan lainnya; mereka di atas agama dan mereka mengenal Allah.” Sesungguhnya, mereka adalah orang-orang yang enggan memeluk Islam. Mereka tidak berada di atas agama yang benar. Amalan mereka terhapus, tertolak, dan tidak bermanfaat kecuali mereka masuk ke dalam agama Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari umat ini baik Yahudi dan Nasrani mendengar tentangku, kemudian dia meninggal dan tidak beriman dengan agama yang aku diutus dengannya, kecuali dia pasti termasuk penghuni neraka.” (Shahih. HR Muslim no. 218 dalam Kitab Iman, Bab Wajibnya Beriman dengan Risalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam)

Ketiga: Syaikh Shalih alusy-Syaikh hafizhahullahu berkata, “Bahwa barangsiapa yang menjadikan ketaatan dan kebiasaannya selain dengan ajaran Islam, maka tidak akan diterima. Sama saja apakah dalam perkara keyakinan maupun syariat; perkara ilmiah maupun amaliah. ( Syarh Fadhlul Islam, hal. 84)

Keempat: Islam secara umum ialah agamanya para nabi dan rasul. Adapun secara khusus maksudnya ialah agama yang diturunkan kepada Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, aqidah dan syariatnya. ( Syarh Fadhlul Islam, hal. 80)

Kelima: Islam maknanya adalah penyerahan diri kepada Allah dengan tauhid, tunduk dengan melakukan ketaatan kepada-Nya, dan berlepas diri dari syirik dan pelaku kesyirikan.

Keenam: Sebab keselamatan di dunia dan akhirat adalah dengan memeluk agama Islam.

Ketujuh: Perkataan batil lagi rusak bahwa semua agama itu sama merupakan dagangan basi orang-orang orientalis dan liberal yang mereka jajakan kepada umat Islam. Tujuannya adalah untuk menjauhkan umat Islam dari ajarannya yang benar. Dan pernyataan semua agama itu sama adalah ajakan kepada kekufuran karena pada hakekatnya adalah ajakan untuk melucuti keyakinan ajaran Islam.

Kedelapan: Pentingnya menuntut ilmu agar dapat menangkal syubhat yang dihembuskan oleh musuh-musuh agama, baik dari kalangan kafirin maupun munafiqin.

✍ Abu ‘Aashim Asy-Syibindunji
📕 Syarah Fadhlul Islam 9
https://sunnahedu.com

Referensi:
‘Ilamul Anam Syarh Kitab Fadhlul Islam. Hanan binti Ali. Pengantar Syaikh Shalih al-Fauzan. Maktabah Al-Asadi, Mekah.
Syarh Fadhlul Islam. Syaikh Shalih al-Ushaimi. Barnamij Muhhimmatil ‘Ilmi.
Syarh Fadhlul Islam. Syaikh Shalih alusy-Syaikh. Maktabah Darul Hijaz, Kairo.
Syarh Rasail Fadhlul Islam. Syaikh Shalih al-Fauzan. Silsilah Syarh Rasail.
Taisir Karimirrahman fi Tafsir Kalamil Mannan. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di. Dar Ibnu Hazm, Kairo.

Abu 'Aashim asy Syibindunji

Pengasuh SunnahEdu[dot]Com. Pernah menjadi mahasantri di Ponpes Jamilurrahman As-Salafi, Bantul. Masyayikh yang pernah diambil faedahnya ialah Syekh Haitsam Muhammad Sarhan, Syekh Abdul Lathif al-Jazairi, dan Syekh Abdul Aziz al-Iedan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *