Wajib Berpegang Teguh dengan As-Sabil (Islam) dan As-Sunnah

عن أبي بن كعب قال : « عليكم بالسبيل والسنة ، فإنه ما على الأرض من عبد على السبيل والسنة ذكر الله ففاضت عيناه من خشية ربه فيعذبه الله أبدا ، وما على الأرض من عبد على السبيل والسنة ذكر الله في نفسه فاقشعر جلده من خشية الله إلا كان مثله كمثل شجرة قد يبس ورقها فهي كذلك إذا أصابتها ريح شديدة فتحات عنها ورقها إلا حط الله عنه خطاياه ، كما تحات عن تلك الشجرة ورقها ، وإن اقتصادا في سبيل وسنة خير من اجتهاد في خلاف سبيل وسنة ، فانظروا أن يكون عملكم إن كان اجتهادا أو اقتصادا أن يكون على منهاج الأنبياء وسنتهم »

Dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Wajib atas kalian berpegang dengan As-Sabil dan As-Sunnah. Tidaklah seseorang di atas As-Sabil dan As-Sunnah, kemudian mengingat Allah dan kedua matanya mengalirkan air mata karena rasa khasyah (takut) kepada Allah, akan disentruh api neraka.

Dan tidaklah seorang hamba di atas As-Sabil dan As-Sunnah, kemudian mengingat Allah dan merinding kulit-kulitnya karena rasa khasyah kepada Allah, kecuali permisalan dia adalah seperti satu pohon yang kering daunnya. Ketika dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba pohon tersebut ditiup angin, sehingga daunnya berguguran, kecuali akan berguguran dosa-dosaanya sebagaimana daun-daun itu berguguran dari pohon tersebut.

Sesungguhnya sederhana dalam As-Sabil dan As-Sunnah lebih baik daripada bersunggung-sungguh dalam menyelisihi As-Sabil dan As-Sunnah. Maka lihatlah amalan kalian, bersungguh-sungguh menyelisihinya atau sederhana di atas jalan para nabi dan sunnah mereka.” (Shahih. Atsar riwayat Abdullah ibnul Mubarak dalam kitab Az-Zuhud war Raqaiq, hal. 454. Takhrij lengkap lihat https://www.ajurry.com/vb/showthread.php?t=8591)

Penjelasan atsar
Syaikh Shalih alusy-Syaikh hafizhahullah berkata, “Atsar di atas diriwayatkan oleh Ibnul Mubarak dalam kitwb Az-Zuhud dan Imam Ahmad juga. Diriwayatkan pula oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah .

Maksud atsar ini adalah bahwa manhaj (metode beragama) para sahabat ridwanullah ‘alaihim ajma’in ialah tetap di atas As-Sabil dan As-Sunnah serta penjelasan agar istiqamah di atas keduanya.

As-Sabil maksudnya ialah jalannya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat ridwanullah ‘alaihim ajma’in. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS Al-An’am [6]: 153)

Dalam ayat disebutkan “jalan” hanya satu, maka “jalan” yang lurus itu hanya satu. Dan di dalamnya terkumpul perkara-perkara Islam dan As-Sunnah di atas rincian-rinciannya. Adapun “jalan-jalan (yang lain)” dan hawa nafsu maka di atas setiap jalannya ada setan yang menyeru kepada manusia untuk masuk ke dalamnya.” ( Syarh Fadhlul Islam, hal. 63-64)

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Sesungguhnya manusia jika ia berada di atas jalan yang benar dan di atas sunnah yang tsabit dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika ia menangis karena takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla maka ia tidak akan disentuh oleh api neraka. Karena takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala itu di atas sabil dan sunnah yakni di atas jalan yang benar.

Adapun jika ia takut kepada Allah di atas jalan selain sunnah, yakni di atas kebid’ahan, maka tidaklah bermanfaat tangisannya itu; ia pun tidak khusyu’ dan takut. Banyak orang-orang Nasrani mereka menangis dan khusyu’ akan tetapi tidak di atas petunjuk benar, melainkan di atas kesesatan. Dan banyak dari para pemuja kubur dan bid’ah, mereka menangis dengan keras, akan tetapi tangisan mereka tidak akan dibalas dengan pahala dan tidak bermanfaat di sisi Allah. Karena keadaan mereka ini tidak di atas jalan As-Sunnah.” ( Syarh Rasail, hal. 21)

Faedah atsar
Pertama: Wajib mengikuti jalannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat ridwanullah ‘alaihim ajma’in, serta istiqamah di dalamnya.
Kedua: Rasa khasyah (takut) dalah ibadah yang hanya ditujukan murni kepada Allah semata. Tidaklah hal ini ada pada diri seseorang kecuali dia berada di atas yang benar.
Ketiga: As-Sabil maksudnya ialah jalannya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat ridwanullah ‘alaihim ajma’in.
Keempat: Jalan kebenaran itu hanya satu, tidak berbilang.
Kelima: Ibadah yang dilakukan di atas jalan kesesatan dan bid’ah tidak membawa manfaat apapun bagi pelakumya.
Keenam: Sederhana dalam sunnah lebih baik daripada bersunggung-sungguh di atas bid’ah dan kesesatan.
Ketujuh: Anjuran untuk muhasabah (instropeksi) diri terkait amalan-amalan yang kita lakukan, sudah sesuai al-huda (petunjuk yang benar) atau justru di atas adh-dhalal (kesesatan).
Kedelapan: Pentingnya menuntut ilmu agar mengetahui mana amalan yang sunnah dan mana yang tidak.

✍ Abu ‘Aashim Asy-Syibindunji
📘 Syarah Fadhlul Islam 7
📱https://sunnahedu.com

Referensi:
‘Ilamul Anam Syarh Kitab Fadhlul Islam. Hanan binti Ali. Pengantar Syaikh Shalih al-Fauzan. Maktabah Al-Asadi, Mekah.
Syarh Fadhlul Islam. Syaikh Shalih al-Ushaimi. Barnamij Muhhimmatil ‘Ilmi.
Syarh Fadhlul Islam. Syaikh Shalih alusy-Syaikh. Maktabah Darul Hijaz, Kairo.
Syarh Rasail Fadhlul Islam. Syaikh Shalih al-Fauzan. Silsilah Syarh Rasail.

Abu 'Aashim asy Syibindunji

Pengasuh SunnahEdu[dot]Com. Pernah menjadi mahasantri di Ponpes Jamilurrahman As-Salafi, Bantul. Masyayikh yang pernah diambil faedahnya ialah Syekh Haitsam Muhammad Sarhan, Syekh Abdul Lathif al-Jazairi, dan Syekh Abdul Aziz al-Iedan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *