Tertolak Amalan yang Tidak Ada Perintahnya

حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ الْقَاسِمِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ

Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa’ad dari bapaknya dari Al Qasim bin Muhammad dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata;

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang membuat perkara baru dalam urusan kami ini yang tidak ada perintahnya maka perkara itu tertolak”. (Shahih. HR Al-Bukhari no. 2499)

حَدَّثَنَا أَبُو جَعْفَرٍ مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَوْنٍ الْهِلَالِيُّ جَمِيعًا عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سَعْدٍ قَالَ ابْنُ الصَّبَّاحِ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ الْقَاسِمِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ

Telah menceritakan kepada kami Abu Ja’far Muhammad bin Shabah dan Abdullah bin ‘Aun Al Hilali semuanya dari Ibrahim bin Sa’d. Ibnu Shabah berkata; telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa’d bin Ibrahim bin Abdurrahman bin Auf telah menceritakan kepada kami ayahku dari Al Qasim bin Muhammad dari ‘Aisyah dia berkata,

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengada-ngada sesuatu yang baru dalam urusan (agama) kami, padahal kami tidak perintahkan, maka hal itu tertolak.” (Shahih. Muslim no. 1718)

Penjelasan Hadits
Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd al-’Abbaad al-Badr hafizhahullahu (ahli hadits Madinah) berkata, “Hadits ini merupakan pondasi dalam menimbang seluruh amalan zahir. Amalan apapun tidak akan dianggap kecuali jika sesuai dengan syariat. Sebagaimana hadits “innamal a’maalu bin niyyat“, merupakan pondasi yang mendasar dalam menimbang seluruh amalan batin. Dan bahwasanya semua amalan yang dijadikan ibadah kepada Allah harus dilakukan dengan ikhlas hanya untuk Allah, dan harus benar dengan niatnya.

Hadits ini juga menunjukkan bahwa orang yang melakukan bid’ah (perbuatan inovasi dalam ibadah), yang sama sekali tidak ada asal-usulnya dalam syariat ini, maka tertolak; pelakunya terancam dengan ancaman (dari Allah dan Rasul-Nya). Sungguh Nabi telah bersabda tentang keutamaan kota Al-Madinah,

مَنْ أَحْدَثَ فِيهَا حَدَثًا، أَوْ آوَى مُحْدِثًا، فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلاَئِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ

“Barangsiapa mengada-ada sebuah amalan di dalamnya, atau memberi tempat tinggal kepada orang yang mengada-ada tersebut, maka atasnya laknat Allah, para malaikat, dan seluruh manusia…” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 1870 dan Muslim no. 1366).

Riwayat kedua yang terdapat dalam Shahih Muslim lebih umum dari riwayat yang terdapat pada Ash-Shahihain (Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim). Karena riwayat dalam Shahih Muslim ini mencakup seluruh orang yang melakukan bid’ah. Sama saja orang tersebut yang pertama kali mengadakan bid’ah ataupun ia hanya mengikuti pendahulunya dalam melakukan bid’ah.

Tidak termasuk ke dalam hadits ini segala sesuatu yang justru membantu dan membuat kemaslahatan dalam rangka menjaga agama. Atau yang membantu dalam memahamkan dan mengetahui agama. Seperti mengumpukan Al-Qur`an dalam mus-haf, menulis ilmu-ilmu bahasa dan nahwu, dan lainnya.

Hadits ini, secara umum menunjukkan bahwa semua amalan yang menyelisihi syariat pasti tertolak. Walaupun maksud pelakunya baik. Dan dalil yang menunjukkan hal ini adalah kisah seorang sahabat yang menyembelih hewan kurbannya sebelum shalat ‘Idul Adh-ha. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada sahabat ini,

شَاتُكَ شَاةُ لَحْمٍ

“Kambing sembelihanmu, kambing sembelihan biasa saja (yakni; hanya sembelihan biasa saja)”. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 955) dan Muslim no. 1961).

Hadits ini, secara lafaznya menunjukkan bahwa setiap amalan yang tidak ada perintah syariat maka tertolak. Dan secara pemahamannya, menunjukkan bahwa amalan yang padanya terdapat perintah syariat, maka tidak akan tertolak. Maknanya adalah setiap amalan yang berada dalam koridor hukum-hukum syariat Islam dan sesuai dengannya, maka ia diterima. Dan yang keluar darinya, maka tertolak.” (Diringkas dari Fat-hul Qawiy Al-Matin, hal. 38-40)

Faedah Hadits
Pertama: Haram berbuat bid’ah dalam agama.

Kedua: Setiap amalan yang terbangun di atas bid’ah, maka ia tertolak atas pelakunya.

Ketiga: Setiap larangan untuk melakukan sesuatu mengandung kerusakan pada sesuatu tersebut.

Keempat: Sesungguhnya amalan yang shalih, jika dilakukan tidak sesuai dengan syariat, seperti melakukan shalat sunnah di waktu yang terlarang dan tanpa ada sebabnya, dan berpuasa pada hari ‘Id, dan yang semisalnya, maka amalan ini batil dan tidak dianggap sama sekali.

Kelima: Penghukuman seorang hakim tidak dapat merubah perkara sesungguhnya, berdasarkan sabdanya “suatu amalan yang tidak berdasarkan perintah kami“.

✍ Abu ‘Aashim Asy-Syibindunji
📕 Syarah Fadhlul Islam 12
https://sunnahedu.com

Referensi:
Fat-hul Qawiy Al-Matiin fii Syarhil Arba’iin wa Tattimatil Khamsiin. Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd al-‘Abaad al-Badr. Riyadh, Daar Ibnul Qayyim.

Abu 'Aashim asy-Syibindunji

Pengasuh SunnahEdu[dot]Com. Pernah menjadi mahasantri di Ponpes Jamilurrahman as-Salafi, Bantul. Aktivitas sekarang bergelut di dunia dakwah dan pendidikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *