Ikutilah Jalan yang Lurus

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS Al-An’am [6] : 153)

Mujahid rahimahullah berkata, ” As-Subul (jalan-jalan) maksudnya adalah bid’ah-bid’ah dan syubhat-syubhat._ “

Tafsir Ayat
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata, “Firman-Nya Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus yaitu inilah hukum-hukum itu dan apa yang serupa dengannya yang Allah jelaskan dalam kitab-Nya dan menerangkan untuk hamba-Nya. Dengan menempuh jalan Allah yang lurus tersebut akan mengantarkan seorang hamba memahami hukum-hukum dan yang serupa dengannya. Dan mengantarkannya ke kampung yang penuh dengan kemuliaan yakni surga.

Maka ikutilah oleh kalian jalan-Nya yang akan memberikan keuntungan dan kemenangan; kalian mendapatkan derajat yang tinggi dan kegembiraan.

‘dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain)’ yakni jalan-jalan yang menyelisihi jalan yang lurus ini. Jika mengikuti selainnya, kalian akan terpisah dari jalan-Nya. Maksudnya ialah kalian tersesat dan berpecah belah. Jika kalian sudah tersesat dari jalan yang lurus, maka tidaklah ada bagi kalian kecuali jalan tersebut akan mengantarkan kalian ke neraka jahim.

Jika kalian menegakkan setiap hal yang Allah jelaskan bagi kalian; ilmu dan amal kalian sesuai dengan jalannya orang-orang yang bertakwa dan beruntung, maka kalian berada di atas jalan yang satu yakni jalan yang lurus. Hanya kepada Allah-lah kita memohon pertolongan agar dapat berjalan di atas jalan-Nya.” (Taisir Karimirrahman lihat http://library.islamweb.net/NEWLIBRARY/display_book.php?flag=1&bk_no=209&ID=445)

Faedah Ayat
Pertama: Jalan yang lurus adalah Islam, Al-Qur`an, dan As-Sunnah. Ketiganya ini saling melazimkan satu sama lain.

Kedua: Jalan yang lurus hanya satu tidak berbilang. Maka seorang muslim tidak pantas mengambil jalan selain jalan-Nya.

Ketiga: Tafsir tabi’in tentang As-Subul. Mujahid bin Jabr al-Makki rahimahullah adalah murid Abdulah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu dan mengkhatamkan Al-Qur`an plus tafsirnya sebanyak tiga kali kepadanya. Kita?

Keempat: Ayat di atas mengandung larangan yang bermakna haram mengambil jalan-jalan selain jalan-Nya.

Kelima: Ayat di atas juga mengandung kewajiban memeluk agama Islam.

Keenam: Perintah untuk mengikuti jalan yang lurus yakni Islam sesuai petunjuk Allah Ta’ala dalam Al-Qur`an dan petunjuk Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Menjauhi syubhat dan tidak boleh berbuat bid’ah (inovasi) dalam beribadah.

✍ Abu ‘Aashim Asy-Syibindunji
📕 Syarah Fadhlul Islam 11
https://sunnahedu.com

Referensi:
‘Ilamul Anam Syarh Kitab Fadhlul Islam. Hanan binti Ali. Pengantar Syaikh Shalih al-Fauzan. Maktabah Al-Asadi, Mekah.
Syarh Fadhlul Islam. Syaikh Shalih al-Ushaimi. Barnamij Muhhimmatil ‘Ilmi.
Syarh Fadhlul Islam. Syaikh Shalih alusy-Syaikh. Maktabah Darul Hijaz, Kairo.
Syarh Rasail Fadhlul Islam. Syaikh Shalih al-Fauzan. Silsilah Syarh Rasail.

Abu 'Aashim asy Syibindunji

Pengasuh SunnahEdu[dot]Com. Pernah menjadi mahasantri di Ponpes Jamilurrahman As-Salafi, Bantul. Masyayikh yang pernah diambil faedahnya ialah Syekh Haitsam Muhammad Sarhan, Syekh Abdul Lathif al-Jazairi, dan Syekh Abdul Aziz al-Iedan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *