Ahlussunnah Lebih Baik dari Ahlul Bid’ah

عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ , أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ: يَا حَبَّذَا نَوْمُ الْأَكْيَاسِ وَإِفْطَارُهُمْ , كَيْفَ يَعِيبُونَ سَهَرَ الْحَمْقَى وَصِيَامَهُمْ , وَلَمِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ بِرٍّ مِنْ صَاحِبِ تَقْوًى وَيَقِينٍ أَفْضَلُ وَأَرْجَحُ وَأَعْظَمُ مِنْ أَمْثَالِ الْجِبَالِ عِبَادَةً مِنَ الْمُغْتَرِبِينَ

Dari Abu Darda` radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Aduhai, sungguh baik tidurnya orang-orang yang cerdik dan tidak puasanya mereka. Bagaimana mereka mengalahkan tidur dan puasanya orang-orang yang dungu. Seukuran dzarrah kebaikan bersamaan dengan ketakwaan dan keyakinan itu lebih agung, utama, dan berat dari permisalan beberapa gunung ibadahnya orang-orang yang tertipu.” (Atsar riwayat Imam Ahmad dalam Az-Zuhud (737), Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (1/211), dan Ibnu Abi Dunya dalam Al-Yaqin. Syaikh Shalih al-‘Ushaimi hafizhahullah berkata, “sanadnya dhaif”)

Penjelasan Atsar
Syaikh Shalih alusy-Syaikh (hal. 75) berkata, “Abu Dardaradhiyallahu ‘anhu adalah orang yang bijaksana di umat ini dan orang yang banyak berpikir. Sebagaimana yang disampaikan oleh Ummu Darda radhiyallahu ‘anha; bahwa ‘Aun bin Abdillah bertanya kepadanya, ‘Ibadah apa yang paling banyak dilakukan oleh Abu Darda`?’ Dia menjawab, ‘Tafakur (berpikir) dan ‘Itibar (mengambil pelajaran dari suatu kejadian).’” Lihat Al-Hilyah Abu Nu’aim (7/300) dan Siyar ‘Alamin Nubala Adz-Dzhabi (2/348). (Syarh Fadhlul Islam, hal. 75)

Atsar di atas menjelaskan bahwa ikhlas dan benarnya keyakinan merupakan tanda diterimanya amalan. Sesungguhnya seseorang hamba yang dia tidak banyak melaksanakan puasa dan shalat sunnah, namun bersamaan dengan itu dia bertakwa kepada Allah, benar keyakinannya, dan aqidahya shahih tidak ada syubhat dan keraguan di dalamnya itu lebih utama daripada orang yang menghidupkan malamnya dengan shalat, siangnya dengan puasa akan tetapi amalan dan keyakinannya itu bertentangan dengan As-Sabil (Islam) dan As-Sunnah. (‘Ilamul Anam, hal. 48)

Jadi, seorang yang memiliki aqidah yang shahih walaupun dia tidur itu lebih baik daripada seorang yang aqidahnya rusak yang dia banyak shalat sunnah. Kenapa demikian? Karena seorang yang memiliki aqidah shahih dia tidur dan tidak berpuasanya di atas kebaikan (sebab berdasarkan ilmu dan keyakinan yang benar). Adapun seorang yang aqidahnya rusak dia shalat dan puasa di atas kerusakan sebab tidak berdasarkan al-huda (ilmu dan petunjuk). (Syarh Rasail, hal. 22)

Faedah
Pertama: Tanda diterimanya amalan adalah ikhlas dan mutaba’ah (mengikuti As-Sunnah)

Kedua: Rusaknya aqidah dan mengambil petunjuk dari selain Al-Qur`an dan As-Sunnah merupakan suatu kejelekan.

Ketiga: Ahlussunnah lebih baik daripada Ahlul Bid’ah.

Keempat: Pentingnya menuntut ilmu agar mengetahui Al-Huda.

Wallahu ‘alam

Abu ‘Aashim Asy-Syibindunji
Syarah Fadhlul Islam 8

Alhamdulillah selesai bab pertama
sunnahedu com

Referensi:
‘Ilamul Anam Syarh Kitab Fadhlul Islam.Hanan binti Ali. Pengantar Syaikh Shalih al-Fauzan. Maktabah Al-Asadi, Mekah.
Syarh Fadhlul Islam. Syaikh Shalih al-Ushaimi. Barnamij Muhhimmatil ‘Ilmi.
Syarh Fadhlul Islam. Syaikh Shalih alusy-Syaikh. Maktabah Darul Hijaz, Kairo.
Syarh Rasail Fadhlul Islam. Syaikh Shalih al-Fauzan. Silsilah Syarh Rasail.

Abu 'Aashim asy Syibindunji

Pengasuh SunnahEdu[dot]Com. Pernah menjadi mahasantri di Ponpes Jamilurrahman As-Salafi, Bantul. Masyayikh yang pernah diambil faedahnya ialah Syekh Haitsam Muhammad Sarhan, Syekh Abdul Lathif al-Jazairi, dan Syekh Abdul Aziz al-Iedan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *