Agama di Sisi Allah Hanyalah Islam

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ ۗ 

Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. ” (QS Ali Imran [2]: 19)

Tafsir Ayat
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata, “Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa ‘ Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam ‘ yakni tidak ada agama lain yang ada di sisi Allah Ta’ala dan diterima agama tersebut kecuali Islam. Yakni tunduk kepada Allah semata secara zahir dan batin dengan apa yang disyariatkannya di atas sunnah rasul-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS Ali Imran [2]: 85)

Barangsiapa yang memeluk agama selain agama Islam, pada hakikatnya ia tidak pernah menyatakan ketundukannya kepada Allah, karena dia tidak meniti jalan yang disyariatkan di atas sunnah rasul-Nya.” ( Taisir Karimirrahman . Lihat http://library.islamweb.net/Newlibrary/display_book.php?idfrom=166&idto=166&bk_no=209&ID=170 )

Beliau rahimahullah pun berkata, “Yakni Islam yang maknanya adalah ketundukan kepada Allah dengan menauhidkan dan menaati-Nya. Hal ini merupakan seruan para rasul. Dan tidak diterima agama selain Islam. Di agama Islam terkandung keikhlasan kepada-Nya dalam al-hubb (cinta), al-khauf (takut), ar-rajaa (harap), al-inaabah (taubat), dan ad-dua (doa) serta mengikuti petunjuk rasul-Nya dalam semua itu. ( Taisir Karimirrahman , hal. 109)

Faedah Ayat
Pertama: Ada dua pendapat yang dimaksud Islam pada ayat di atas, apakah Islam secara umum atau khusus? Pertama mengatakan bahwa maksudnya adalah Islam secara umum, yakni tunduk kepada Allah dengan tauhid, patuh dengan melaksanakan ketaatan kepada-Nya, dan mengikhlaskan semua peribadatan untuk Allah semata; hal ini merupakan agama seluruh para nabi dan rasul. Yang kedua mengatakan maksudnya ialah Islam secara khusus, yakni yang risalah ini diturunkan kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak diterima agama apapun setelah diutusnya Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. ( Ilamul Anam , hal. 53)

Kedua: Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menutup risalah dengan apa yang diturunkan kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman,

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ

Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur`an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu.” (QS Al-Maidah [5]: 48)

Ketiga: Syaikh Shalih al-‘Ushaimi hafizhahullah berkata, “Pada ayat tersebut terdapat pernyataan yang jelas bahwa agama yang Allah ridhai ialah agama Islam. Setiap ibadah yang diperintahkan oleh-Nya tidaklah diterima kecuali dengan beragama Islam. Maka memeluk agama Islam itu wajib. ( Syarh Fadhlul Islam,hal. 16-17)

Keempat: Maka wajib masuk ke dalam agama Islam sebagai bentuk ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Karena kewajiban itu mengikuti perintah bukan mengikuti hawa nafsu. ( Silsilah Syarh Rasail, hal. 24)

✍ Abu ‘Aashim Asy-Syibindunji
📕 Syarah Fadhlul Islam 10
https://sunnahedu.com

Referensi:
‘Ilamul Anam Syarh Kitab Fadhlul Islam. Hanan binti Ali. Pengantar Syaikh Shalih al-Fauzan. Maktabah Al-Asadi, Mekah.
Syarh Fadhlul Islam. Syaikh Shalih al-Ushaimi. Barnamij Muhhimmatil ‘Ilmi.
Syarh Fadhlul Islam. Syaikh Shalih alusy-Syaikh. Maktabah Darul Hijaz, Kairo.
Syarh Rasail Fadhlul Islam. Syaikh Shalih al-Fauzan. Silsilah Syarh Rasail.
Taisir Karimirrahman fi Tafsir Kalamil Mannan. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di. Dar Ibnu Hazm, Kairo.

Abu 'Aashim asy Syibindunji

Pengasuh SunnahEdu[dot]Com. Pernah menjadi mahasantri di Ponpes Jamilurrahman As-Salafi, Bantul. Masyayikh yang pernah diambil faedahnya ialah Syekh Haitsam Muhammad Sarhan, Syekh Abdul Lathif al-Jazairi, dan Syekh Abdul Aziz al-Iedan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *