Pentingnya Mempelajari Sirah Nabawiyah

Jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah, merupakan kalimat yang sering kita dengar dari para guru kita. Karena dengan sejarahlah seseorang mampu mengambil pelajaran untuk ia terapkan di kehidupannya. Salah satu sejarah yang tidak boleh kita abaikan dan patut diambil pelajarannya adalah sejarah hidup manusia yang mulia, rasul terkahir, Nabi Agung Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Perhatikanlah perkataan para ulama berikut ini.
Cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Al-Husain bin Ali radhiallahu ‘anhuma berkata,

Kami diajarkan sejarah peperangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana kami diajarkan surat dalam Al-Qur`an.

Imam Az-Zuhri rahimahullah berkata,

Ilmu peperangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memuat ilmu dunia dan akhirat.

Ibnul Jauzi rahimahullah berkata,

Aku melihat kesibukan dengan belajar fikih dan mengejar riwayat hadits telah hampir cukup untuk kebaikan jiwa, tinggal menyempurnakannya dengan sentuhan-sentuhan hati dan mempelajari sejarah perjalanan salafush shalih.

Ibnu Hazm rahimahullah berkata,

Sesungguhnya sirah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi yang  merenunginya akan mengantarkan kepda kewajiban beriman dan percaya kepadanya, bersaksi bahwa dia adalah benar-benar Rasulullah (utusan Allah), bahkan seandainya Beliau tidak memiliki mukjizat, kecuali sejarah perjalanannya, maka hal itu sudah cukup baginya.

Dari keterangan para ulama di atas menunjukan bahwa sirah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dipenuhi dengan pelajaran, peringatan, hikmah kehidupan, dan norma-norma asasi. Oleh karena itu, di antara kelebihan agama ini adalah kehebatan prinsip aturan dalam kehidupan dan kemantapan contoh aplikasi yang terabadikan pada perjalanan hidup Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka dari itu, Sirah Nabi adalah bagian dari agama ini, memperkenalkan Sirah Nabi sama saja dengan memperkenalkan agama ini.
Manfaat Mempelajari Sirah Nabi
Mempelajari Sirah Nabi memiliki manfaat yang sangat besar, diantaranya sebagai berikut:
1.Allah Yang Mahamulia telah memerintahkan kita untuk menulis perjalanan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan untuk menulis sunnah-sunnah Nabi. Allah Ta’ala berfirman,
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu …” (QS Al-Ahzab [33]: 21)
Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dapat dijadikan suri teladan dengan cara mengenal sejarah perjalannya dan petunjuk-petunjuknya. Semua itu tidak mungkin terjadi, kecuali dengan mempelajari Sirah Nabi.
2.Mempelajari Sirah Nabi berarti kita mempelajari sejarah perjalanan manusia yang mulia, yang merupakan penghulu anak cucu Adam ‘alaihissalam.
3. Kita mempelajarinya untuk memahami Kitab Allah Ta’ala, karena banyak ayat yang turun disebabkan oleh kejadian yang terjadi pada periode sejarah perjalanan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan setalah turunnya ayat tersebut, maka respon Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari substansi ayat tersebut adalah penjelasan langsung dan konkret tentang cara mengamalkan makna kandungan dari ayat tersebut.
4. Di antara prinsip-prinsip yang wajib diketahui oleh seorang hamba setelah kewajiban mengenal Allah dan agama adalah kewajiban mengenal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini mengandung lima perkara:
a. mengenal nasabnya, bahwa Beliau adalah manusia termulia dari segi nasab dan keturunan;
b. mengenal tempat dan tanggal lahir serta tempat hijrahnya;
c. meneganl masa kenabiannya yaitu selama 23 tahun;
d. penjelasan Beliau menjadi Nabi dan Rasul; dan
e. penjelasan Beliau diutus dan faktor-faktor yang melatarbelakanginya.
Dengan mengenal Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mengantarkan kita menuju:
(1) orang yang lebih mencintai, menghormati, dan menghargai, serta mengasihi sang kekasih pilihan Allah Ta’ala, yakni Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan kecintaan kita kepada Beliau dengan dasar ilmu bukan dengan dasar perasaan semata. Sementara cinta karena dasar ilmu itulah cinta yang diinginkan.
(2) menjadikan Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai suri teladan. Sementara tidak mungkin menjadikan Beliau sebagai suri teladan, kecuali dengan mengenal sejarah kehidupannya. Maka dikatakan dalam sebuah kaidah, “Sebuah kewajiban yang tidak dapat terlaksana, kecuali dengan penyebab lain, maka penyebab lain tersebut masuk dalam kategori wajib.” Apabila meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hukumnya wajib, maka sarana untuk bisa meneladaninya yaitu mengenal sejarah perjalanannya hukumnya juga wajib.
5. Sirah Nabi adalah ilmu yang cakupannya luas. Karena dengan mempelajari Sirah Nabi kita dapat mengetahu hal-hal berikut ini:
a. akidah
b. hukum
c. akhlak dan moral
d. ilmu berdakwah
e. dan lain-lain
6. Dengan mempelajari Sirah Nabi berarti kita mengenal secara mendalam kepribadian Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kondisi-kondisi yang pernah dialaminya.
7. Agar kita mendapatkan gambaran tentang tipe ideal yang menyangkut seluruh aspek kehidupan yang utama untuk dijadikan undang-undang dan pedoman kehidupan.
8. Dan sebagai pembina dan dai dapat memiliki contoh hidup menyangkut cara-cara pembinaan dan dakwah yang dilakukan oleh Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Maka, mengingat betapa pentingnya Sirah Nabi ini di kehidupan seorang muslim, para ulama dari masa ke masa senantiasa mengabadikan perjalanan manusia yang mulia pada karya-karya mereka, sebut saja seperti:
1. Ibnu Hisyam dengan karyanya As-Sîrah An-Nabawiyyah,
2. Abu Hatim al-Bisti dengan karyanya As-Sîrah An-Nabawaiyyah wa Akhbar Al-Khulafa’,
3. Ibnu Katsir dengan karyanya Al-Bidâyah wa An-Nihâyah,
4. Adz-Dzahabi dengan karyanya As-Sîrah An-Nabawiyyah,
5. Ibnu Qayim al-Jauziyah dengan karyanya Zaâdul Ma’âd fi Hadyi Khairul Ibâd,
6. Al-Manshurfuri dengan karyanya Rahmatan lil ‘Âlamin,
7. Al-Mubarakfuri dengan karyanya Ar-Rakhik Al-Makhtum,
8. Muhammad Ramadhani al-Buthi dengan karyanya Fiqhus Sîrah An-Nabawiyyah ma’a Mûjazi li Târikhîkh Al-Khilâfah Ar-Râsyidah,
9. Zaid bin Abdul Karim dengan karyanya Fiqhus Sîrah,
10. Dan lain-lain yang sekiranya hal ini ditulis tentu tidak cukup tinta ini menorehkannya.
Salatiga, 29 Rabi’ul Awal 1440
Yang ingin mengikuti jejak ulama sirah,
Abu ‘Aashim Doudou
Referensi:
Fiqhus Sîrah karya Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim az-Zaid. Dâr At-Tadmuriyyah, Riyadh.
Fiqhus Sîrah An-Nabawiyyah ma’a Mûjazi li Târikhîkh Al-Khilâfah Ar-Râsyidah karya Prof. Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthi. Dâr As-Salâm, Kairo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *